Wabah Ebola di Kongo Kian Gawat, WHO Catat 220 Kematian Suspek

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 26 Mei 2026 | 15:13 WIB
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. (BeritaNasional/WHO)
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. (BeritaNasional/WHO)

BeritaNasional.com - Wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo kian meluas dan memprihatinkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pada Senin (25/5/2026), wabah ini telah menyebabkan 220 kematian suspek Ebola. Bahkan, para pejabat kesehatan juga kesulitan mengimbangi penyebaran epidemi.

Meskipun 101 kasus telah terkonfirmasi dan 10 kematian terkonfirmasi akibat Ebola, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, skala sebenarnya jauh lebih besar, karena ada 900 suspek dan 220 kematian suspek yang terjadi.

"Kini terdapat lebih dari 900 kasus suspek dan 220 kematian suspek," kata Tedros dalam Rapat Virtual Tingkat Menteri tentang Wabah Ebola Bundibugyo pada Senin (25/5/2026).

Darurat kesehatan masyarakat sendiri telah diumumkan sejak 17 Mei yang menjadi perhatian internasional, wabah ini juga telah menyebar ke Uganda, yang mencatat lima kasus terkonfirmasi dan satu kematian.

Tedros pun menyoroti tantangan utama dari penyebaran Ebola ini, yaitu keterlambatan dalam mendeteksi wabah membuat tim kesehatan kini harus mengimbangi laju epidemi yang menyebar sangat cepat.

"Kami sedang menyegerakan peningkatan operasi, tetapi saat ini, penyebaran epidemi lebih cepat daripada upaya kami," ungkapnya.

Galur Ebola yang terlibat adalah virus Bundibugyo, yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi yang disetujui. Wabah galur ini sebelumnya hanya pernah terjadi dua kali, yakni di Uganda pada 2007 dan di RD Kongo pada 2012. WHO merekomendasikan agar dua antibodi monoklonal diprioritaskan untuk uji klinis.

Krisis ini pun kian parah karena provinsi-provinsi terdampak, yakni Ituri dan Kivu Utara, yang sedang mengalami kerawanan yang intens serta ketidakpercayaan masyarakat.

Dalam beberapa bulan terakhir, pertikaian yang kian intensif telah memaksa lebih dari 100.000 orang mengungsi, disertai dua insiden keamanan di sejumlah fasilitas kesehatan pada pekan lalu.

WHO pun telah menaikkan evaluasi risiko nasional menjadi "sangat tinggi", sementara risiko regional tetap di level "tinggi", dan risiko global "rendah". Negara-negara tetangga didesak segera mengambil tindakan.

Tedros dijadwalkan melakukan perjalanan ke RD Kongo bersama direktur kedaruratan WHO seiring komitmen lembaga tersebut untuk menghentikan wabah.

"Situasi akan memburuk sebelum membaik. Namun, kami mengenal virus ini, dan kami tahu cara menghentikannya," ujar Tedros.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: