Puluhan Tenaga Kesehatan di Pusat Pengobatan Ebola Kongo Mogok Kerja, Ini Sebabnya!

Oleh: Kiswondari
Selasa, 14 Juli 2026 | 21:29 WIB
Ilustrasi tenaga kesehatan di Kongo menangani pasien Ebola. (Foto/doc WHO)
Ilustrasi tenaga kesehatan di Kongo menangani pasien Ebola. (Foto/doc WHO)

BeritaNasional.com - Di tengah semakin bertambahnya jumlah penduduk yang terpapar wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo), kini puluhan tenaga kesehatan (nakes) di Pusat Pengobatan Ebola (ETC) di Ituri melakukan aksi mogok pada Senin (13/7/2026) waktu setempat. Motof aksi tersebut lantaran mereka belum dibayar sejak wabah menyebar di negara tersebut sejak bulan Mei.

Melansir Viory pada Selasa (14/7/2026), sebuah rekaman video menunjukkan para tenaga kesehatan tengah berkumpul di sekitar api unggun di luar Rumah Sakit Umum Rwampara, dengan pagar yang menghalangi akses ke kompleks tersebut. Rumah sakit yang digunakan oleh dokter dan staf garda terdepan pun terlihat kosong karena pemogokan terus berlanjut.

"Kami telah bekerja tanpa bayaran sejak awal wabah. Kami datang ke sini setiap hari dan melakukan pekerjaan yang sulit, termasuk menangani jenazah orang-orang yang meninggal setelah dinyatakan positif. Tetapi kami menghadapi kesulitan serius dan tidak tahu harus berbuat apa," kata seorang petugas kebersihan di fasilitas tersebut.

"Mengapa tidak ada yang mau membayar kami? Kami tidak akan bekerja hari ini. Jika kami tidak dibayar, kami juga tidak akan bekerja besok," tambah anggota tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi.

Bahkan, pasien dan kerabat harus memanjat pagar rumah sakit tersebut untuk menjenguk orang-orang terkasih yang dirawat di dalam pusat perawatan. Banyak pula di antara mereka yang mengungkapkan rasa frustrasi dan kekhawatiran.

"Saya datang ke sini untuk menemui putri saya dan cucu saya yang sakit Ebola. Saya sedih karena saya telah menghabiskan banyak waktu dan ongkos taksi untuk datang ke sini. Tapi saya harus pulang tanpa bertemu mereka," cerita salah seorang pasien.

Sebelumnya, beberapa staf dan tenaga kesehatan melakukan aksi mogok kerja sejak minggu lalu, yang menyebabkan pasien di dalam fasilitas tersebut hanya mendapatkan sedikit atau bahkan tidak mendapatkan perawatan sama sekali. Pihak berwenang menyatakan mereka sedang memverifikasi identitas para pekerja garda depan untuk memastikan gaji dibayarkan kepada staf yang tepat.

Sebagai informasi, wabah ini dikonfirmasi di RD Kongo dan Uganda pada bulan Mei setelah pengujian laboratorium mengidentifikasi penyakit Ebola yang disebabkan oleh virus Bundibugyo. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mendeklarasikannya sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional pada 17 Mei lalu.

Berdasarkan data resmi hingga 11 Juli, Kementerian Kesehatan RD Kongo telah melaporkan 1.926 kasus dan 702 kematian yang disebabkan oleh Ebola.

Sumber: Viorysinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: