Belum Capai Puncak, Wabah Ebola di Kongo Terus Meluas

Oleh: Tim Redaksi
Jumat, 10 Juli 2026 | 13:00 WIB
Ilustrasi tenaga kesehatan di Kongo menangani pasien Ebola. (Foto/doc WHO)
Ilustrasi tenaga kesehatan di Kongo menangani pasien Ebola. (Foto/doc WHO)

BeritaNasional.com - Otoritas kesehatan Republik Demokratik (RD) Kongo menyatakan wabah Ebola yang melanda negara tersebut saat ini masih berada dalam fase yang sangat aktif dan belum mencapai puncaknya. 

Kendati demikian, tren kenaikan angka kasus yang dilaporkan belakangan ini dinilai sebagai dampak positif dari perluasan sistem pengawasan di tingkat komunitas, bukan karena adanya lonjakan penularan yang memburuk secara mendadak.

Menteri Kesehatan Kongo Samuel Roger Kamba menjelaskan situasi tersebut saat meninjau Bunia, ibu kota Provinsi Ituri yang menjadi pusat penyebaran wabah. 

Menurut dia, pengerahan petugas kesehatan masyarakat secara masif untuk melacak pasien langsung ke rumah-rumah warga secara otomatis membuat angka kasus terdeteksi melonjak naik.

Namun, langkah ini sangat penting karena memberikan gambaran riil mengenai peta penyebaran virus yang sesungguhnya di tengah masyarakat.

Berdasarkan data epidemiologi terbaru, DRC sejauh ini telah mencatat total 1.792 kasus terkonfirmasi. 

Dari jumlah tersebut, sebanyak 625 orang dilaporkan meninggal dunia, 295 pasien berhasil sembuh, dan 764 pasien lainnya masih menjalani isolasi intensif atau perawatan medis di rumah sakit. 

Kamba menambahkan pihaknya belum bisa memprediksi kapan wabah ini akan mereda karena mobilitas penduduk yang tinggi serta tantangan dalam membangun kesadaran masyarakat masih menjadi batu sandungan dalam upaya pengendalian virus.

Wabah Mulai Meluas ke Provinsi Tetangga

Kekhawatiran baru kini muncul setelah virus dilaporkan telah keluar dari wilayah Ituri akibat pergerakan pasien yang terinfeksi.

Kasus ini kini telah terdeteksi di dua wilayah baru, yaitu di Wamba yang terletak di Provinsi Haut-Uele, serta di Kisangani, ibu kota Provinsi Tshopo yang dikenal sebagai pusat ekonomi dan transportasi utama di wilayah timur laut Kongo.

Kenaikan cakupan geografis ini membuat tim medis harus memperluas wilayah operasi penanganan darurat.

Penyelidikan mendalam terhadap temuan kasus di Tshopo masih terus berjalan. Sejumlah pakar kesehatan menilai masuknya Ebola ke provinsi-provinsi baru ini menjadi sinyal merah atas potensi penyebaran virus yang jauh lebih luas dan masif jika tidak segera disekat dengan ketat.

Uji Coba Obat dan Terapi Baru Dimulai

Di tengah situasi yang mengkhawatirkan ini, secercah harapan datang dari sektor medis. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) mengumumkan rincian terbaru terkait riset terapi untuk melawan virus Ebola jenis Bundibugyo, yang menjadi galur (strain) utama penyebab wabah kali ini.

Pejabat CDC Afrika, Mosoka Fallah, mengungkapkan bahwa sejak 2 Juli lalu, pihaknya telah meluncurkan uji klinis untuk mengevaluasi efektivitas antibodi monoklonal MBP134 dan obat antivirus remdesivir.

Kedua obat tersebut diuji baik secara mandiri maupun dikombinasikan. Uji coba yang awalnya berpusat di satu fasilitas kesehatan ini rencananya akan segera diperluas ke beberapa lokasi lain seiring bertambahnya jumlah partisipan.

Selain itu, sebuah uji coba pencegahan terpisah menggunakan obat antivirus oral berspektrum luas bernama obeldesivir juga dijadwalkan mulai berjalan minggu depan, dengan menyasar sekitar 800 orang yang masuk dalam kategori kontak erat berisiko tinggi.

Sumber: Xinhua Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: