Ebola di Kongo Memburuk, Ada 1.500 Kasus Positif

Oleh: Tim Redaksi
Sabtu, 04 Juli 2026 | 10:45 WIB
Ilustrasi virus Ebola. (Foto/CDC)
Ilustrasi virus Ebola. (Foto/CDC)

BeritaNasional.com - Wabah virus Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo (DRC) kian mengkhawatirkan. Hingga saat ini, otoritas kesehatan setempat melaporkan telah mengonfirmasi 1.502 kasus positif, dengan angka kematian yang tragis mencapai 473 jiwa.

Berdasarkan laporan situasi terbaru yang dirilis oleh otoritas kesehatan masyarakat DRC pada Jumat waktu setempat, tercatat ada 628 pasien yang saat ini tengah diisolasi atau menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Sementara itu, sebanyak 229 pasien dinyatakan telah berhasil sembuh.

Selain kasus konfirmasi, pemerintah Kongo juga tengah memantau ketat 213 kasus suspek (diduga terinfeksi), yang di dalamnya termasuk 63 kasus kematian yang belum terverifikasi laboratorium.

Wabah Terbesar yang Pernah Tercatat

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan kondisi di lapangan masih berada dalam status serius. Penularan virus mematikan ini dilaporkan terus meluas, terutama di wilayah timur Kongo, yakni Provinsi Ituri dan Kivu Utara.

Direktur Regional WHO untuk Afrika Mohamed Yakub Janabi mengungkapkan krisis yang terjadi kali ini merupakan salah satu yang paling mengkhawatirkan dalam sejarah medis kawasan tersebut.

"Wabah saat ini adalah wabah Ebola varian Bundibugyo terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah," ujar Janabi dalam konferensi pers daring.

Konflik Bersenjata dan Tambang Jadi Penghambat

Upaya penanganan medis di Kongo menghadapi tembok besar. Pakar WHO yang bertugas di DRC, Pierre Akilimali, membeberkan bahwa wilayah-wilayah yang menjadi episentrum wabah saat ini tengah dilanda konflik horizontal dan aktivitas kelompok milisi bersenjata.

Ketidakamanan ini membuat petugas medis kesulitan untuk mendeteksi kasus baru dan melacak orang-orang yang sempat melakukan kontak fisik dengan pasien (contact tracing).

Situasi kian rumit karena beberapa wilayah terdampak di Provinsi Ituri merupakan kawasan penambangan. Mobilitas dan pergerakan orang dari luar daerah yang sangat tinggi di area tambang tersebut memicu lonjakan risiko penyebaran virus ke wilayah lain dengan lebih cepat.

Uji Klinis Obat Baru Mulai Berjalan

Hingga saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan khusus yang mengantongi izin resmi untuk menangani virus Ebola dari varian Bundibugyo ini.

Namun, harapan baru mulai muncul. WHO mengumumkan bahwa mereka telah memulai proses perekrutan pasien di DRC untuk menjalani uji klinis. Langkah medis ini dilakukan guna mengevaluasi efektivitas dan potensi beberapa kandidat obat baru yang diharapkan mampu menjinakkan keganasan virus Ebola varian Bundibugyo tersebut.

Sumber: Xinhua Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: