Kasus Ebola di Kongo Tembus 2.000, WHO Peringatkan Pola Penularan Tak Teridentifikasi
BeritaNasional.com - Situasi darurat kesehatan di Republik Demokratik (RD) Kongo kian mencemaskan.
Jumlah kasus Ebola yang terkonfirmasi secara resmi kini melampaui 2.000 kasus.
Kendati demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan peringatan keras bahwa skala riil dari wabah mematikan ini diperkirakan jauh lebih besar, bahkan bisa mencapai dua hingga empat kali lipat dari data yang dilaporkan.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis otoritas kesehatan setempat pada Selasa (14/7/2026), tercatat ada 2.011 kasus terkonfirmasi dengan angka kematian yang telah menyentuh 754 jiwa.
Pihak WHO mengendus adanya fenomena gunung es akibat rantai penularan yang tidak terdeteksi, banyaknya pasien yang meninggal di lingkungan masyarakat tanpa sempat dilaporkan, hingga perluasan geografis virus yang berjalan sangat masif.
Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO Chikwe Ihekweazu menyebutkan epidemi yang dipicu oleh virus Ebola varian Bundibugyo ini bergerak di luar kendali.
Sejak dideklarasikan pada pertengahan Mei lalu, virus ini telah menyebar di lima provinsi dan resmi menjadi wabah Ebola terbesar ketiga dalam sejarah.
"Kami telah melihat pertumbuhan tercepat dalam satu bulan sejak wabah dimulai dan dari semua wabah Ebola yang telah kami tangani. Ini seperti api," tuturnya.
Menurut laporan mingguan kantor regional WHO untuk Afrika, wabah ini tengah memasuki fase baru yang ditandai dengan perluasan wilayah di luar episentrum utamanya di Provinsi Ituri.
Dua provinsi baru, yakni Tshopo dan Haut-Uele, kini ikut terjangkit.
Di Haut-Uele sendiri, ditemukan 14 kasus dengan angka kematian yang sangat tinggi, yaitu 13 jiwa.
Kekhawatiran terbesar kini mengarah pada terdeteksinya kasus di Kisangani. Kota yang dihuni lebih dari 1,6 juta jiwa ini merupakan urat nadi transportasi penting yang menghubungkan wilayah barat dan timur Kongo.
PBB melalui Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan memperingatkan adanya risiko penularan skala besar di sepanjang jalur logistik utama, termasuk area Sungai Kongo.
Lebih mengkhawatirkan lagi, pelacakan di lapangan menunjukkan adanya transmisi tersembunyi.
Sekitar 80 persen pasien baru yang terkonfirmasi ternyata tidak memiliki riwayat kontak dengan pasien Ebola sebelumnya. Artinya, mereka tertular dari rantai penyebaran yang gelap dan belum teridentifikasi.
Fasilitas kesehatan di Kongo juga kewalahan. Saat ini, tingkat keterisian ruang isolasi dan perawatan mencapai rata-rata 87,4 persen, bahkan beberapa rumah sakit di zona merah dilaporkan sudah penuh total. Ironisnya, 68 persen dari 205 kematian terbaru terjadi di luar fasilitas medis, sebuah indikator kuat bahwa masyarakat terlambat mendapatkan penanganan.
Berbeda dengan varian Zaire yang sudah memiliki penangkal, Ebola varian Bundibugyo yang mengamuk saat ini belum memiliki vaksin atau obat khusus yang mengantongi izin edar resmi.
Guna meredam situasi, uji klinis fase pertama di Kongo dan Uganda resmi diluncurkan pada Selasa untuk menguji efektivitas obat antivirus obeldesivir sebagai langkah pencegahan pascapaparan.
Riset ini menyasar 1.000 partisipan, baik dewasa maupun anak-anak di atas 12 tahun yang sempat berinteraksi langsung dengan pasien atau material terkontaminasi.
Sebelumnya, pada 2 Juli, WHO juga telah menggulirkan uji klinis bertajuk Partners untuk menguji kombinasi obat remdesivir dan antibodi monoklonal MBP134 pada pasien yang sudah positif.
Tantangan di lapangan kian kompleks akibat situasi Kongo timur yang karut-marut oleh konflik bersenjata, isu pengungsian internal yang menampung 5,8 juta jiwa, serta krisis pangan.
Belum lagi, adanya resistensi dari masyarakat, pemogokan tenaga medis akibat masalah tunjangan, hingga serangan fisik terhadap fasilitas kesehatan.
Tercatat, 114 petugas medis tertular dan 36 di antaranya gugur.
Di saat bersamaan, Kongo juga harus membagi fokus dan sumber dayanya untuk melawan badai penyakit lain. Sepanjang paruh pertama tahun 2026, negara ini telah dihantam oleh 32.100 kasus kolera, 99.200 kasus campak, dan 22.800 kasus mpox.
Meskipun kondisinya sangat berat, WHO mendesak komunitas internasional untuk tidak angkat tangan dalam membantu Kongo mengatasi krisis multidimensi ini.
"Kita membutuhkan dunia untuk bersatu, bukan hanya karena amal atau dukungan untuk DRC, tetapi demi kepentingan terbaik kita sendiri yang tercerahkan," tegas Ihekweazu.
Sumber: Xinhua News
OLAHRAGA | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
OLAHRAGA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
HUKUM | 16 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 16 jam yang lalu




