Perdamaian AS-Iran Bawa Dampak Positif, DPR Dorong Harga BBM Dievaluasi

Oleh: Ahda Bayhaqi
Selasa, 16 Juni 2026 | 06:31 WIB
Warga melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Cikini, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)
Warga melakukan pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Cikini, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com -  Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam menyambut baik kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran. Meredanya konflik akan berdampak terhadap penurunan harga minyak dunia. Sehingga, Anam menilai wajar jika harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia dituntut untuk diturunkan.

"Ketika perang memanas, rakyat diminta memahami kenaikan harga BBM karena harga minyak dunia melonjak. Maka ketika perang mereda, Selat Hormuz kembali aman, dan harga minyak dunia turun, rakyat juga menuntut hal yang sama, manfaatnya harus segera dirasakan," katanya kepada wartawan, dikutip Selasa (16/6/2026).

Anam mengingatkan pemerintah jangan menggunakan logika satu arah. Ketika harga minyak dunia naik, BBM di dalam negeri langsung menyesuaikan. Namun, saat minyak turun, justru muncul alasan menunda penyesuaian.

"Jangan sampai logikanya hanya berlaku satu arah. Saat harga minyak naik, harga BBM cepat menyesuaikan. Tetapi saat harga minyak turun, yang muncul justru berbagai alasan untuk menunda penyesuaian," ujar Anam.

"Padahal yang dipertaruhkan bukan sekadar harga BBM. Yang dipertaruhkan adalah ongkos hidup jutaan rakyat. Sebab setiap kenaikan BBM selalu berdampak ke tarif transportasi, biaya logistik, harga pangan, biaya produksi UMKM, hingga daya beli masyarakat," sambungnya.

Anam pun mendorong pemerintah dan Pertamina evaluasi harga BBM secara transparan. Jangan sampai menunda ruang penurunan harga BBM.

"Karena itu pemerintah dan Pertamina harus segera mengevaluasi harga BBM secara transparan. Jika memang ruang penurunan sudah tersedia, jangan ditunda," katanya.

"Rakyat tidak boleh terus menjadi pihak yang pertama menanggung dampak gejolak global, tetapi terakhir menikmati manfaat ketika keadaan membaik," pungkasnya.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: