Denny JA Rumuskan Teori Baru di Balik Kerusuhan Agustus 2025

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 16 Juni 2026 | 10:52 WIB
Penulis dan pengamat sosial Denny JA. (Foto/istimewa)
Penulis dan pengamat sosial Denny JA. (Foto/istimewa)

BeritaNasional.com -  Penulis dan pengamat sosial Denny JA mengemukakan gagasan mengenai perlunya teori sosial baru untuk menjelaskan fenomena kerusuhan di era digital. Gagasan tersebut ia tuangkan dalam esai berjudul Kerusuhan Agustus 2025 dan Teori Sosial Baru yang Menjelaskannya.

Menurut Denny, kerusuhan yang terjadi pada Agustus 2025 menjadi peristiwa yang menunjukkan perubahan pola gerakan sosial yang dipengaruhi teknologi digital dan media sosial.

"Peristiwa Agustus 2025 bukan sekadar kerusuhan. Ia adalah gejala sosial yang membutuhkan teori sosial baru untuk menjelaskannya," tulis Denny, Selasa (16/6/2026).

Ia menilai teori-teori sosial klasik selama ini hanya mampu menjelaskan sebagian fenomena yang terjadi di masyarakat modern.

"Banyak teori lama mampu menjelaskan sebagian fakta. Namun tidak ada satu pun yang mampu menjelaskan keseluruhan fenomena," ujarnya.

Dalam esai tersebut, Denny mengulas sejumlah teori besar yang selama ini menjadi fondasi ilmu sosial, di antaranya Relative Deprivation Theory dari Ted Robert Gurr, Resource Mobilization Theory, hingga Networked Protest Theory yang dikembangkan Manuel Castells dan Zeynep Tufekci.

Namun, menurutnya, teori-teori tersebut memiliki keterbatasan ketika dihadapkan dengan perkembangan era digital dan perubahan karakter masyarakat.

Ia kemudian mengajukan konsep baru yang disebut Teori Kerusuhan Era Digital. Konsep tersebut dibangun melalui lima variabel utama, yakni keresahan ekonomi (Economic Grievance), kelas rentan digital (Digitally Vulnerable Class), penguatan media sosial (Social Media Amplification), pemicu dan provokasi (Trigger and Provocation), serta kontrak sosial yang rusak (Broken Social Contract).

"Inilah kontribusi paling orisinal teori ini. Saya menyebutnya kelas rentan digital. Mereka adalah ojol, kurir, freelancer, pekerja platform, content creator kecil, dan berbagai pekerja informal digital," tulisnya.

Menurut Denny, media sosial juga berperan sebagai mesin penguat emosi kolektif yang mempercepat penyebaran kemarahan di masyarakat.

"Di era digital, notifikasi dapat menggantikan pamflet revolusi," katanya.

Ia menjelaskan bahwa teori yang diajukan tidak hanya menjelaskan penyebab kerusuhan, tetapi juga mekanisme penyebaran gejolak sosial di era digital.

"Teori ini tidak hanya menjelaskan mengapa kerusuhan terjadi. Ia juga menjelaskan mengapa kerusuhan menyebar," tulisnya.

Pada bagian akhir esainya, Denny menyebut fenomena kerusuhan digital berpotensi menjadi pola baru di berbagai negara ketika keresahan ekonomi bertemu dengan kerentanan digital dan diperkuat oleh algoritma media sosial.

"Kerusuhan Agustus 2025 bukan sekadar peristiwa politik. Ia adalah tanda zaman," tutup Denny.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: