Denny JA Ungkap Kapitalisme Algoritma Lahirkan Kelas Pekerja Digital yang Rentan

Oleh: Tim Redaksi
Minggu, 14 Juni 2026 | 16:39 WIB
Pendiri LSI Denny JA. (Foto/Ist)
Pendiri LSI Denny JA. (Foto/Ist)

BeritaNasional.com - Indonesia kini tengah menghadapi fenomena sosial baru seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi. 

Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengungkapkan revolusi digital telah memicu lahirnya cikal bakal kelas sosial baru yang disebut sebagai Digitally Vulnerable Class (DVC) atau Pekerja Digital yang Rentan.

Gagasan ini dituangkan Denny JA dalam esai terbarunya yang berjudul “Datangnya Kapitalisme Algoritma dan Cikal Bakal Lahirnya Kelas Baru: Pekerja Digital yang Rentan (DVC)” melalui akun Facebook resmi Denny JA’s World.

Menurut Denny, dunia saat ini sedang bergeser dari era kapitalisme industri abad ke-19 dan kapitalisme finansial abad ke-20 menuju era baru, yaitu kapitalisme algoritma.

“Jika, kapitalisme industri bertumpu pada mesin dan kapitalisme finansial bertumpu pada modal, maka kapitalisme algoritma bertumpu pada data dan algoritma,” ujar Denny JA melalui siaran persnya yang dikutip pada Minggu (14/6/2026).

Dalam sistem ekonomi yang baru ini, algoritma memegang kendali penuh. Tidak sekadar membantu proses produksi, teknologi ini juga menentukan akses kerja, pendapatan, reputasi, hingga peluang ekonomi seseorang. 

Saat ini, diperkirakan ada sekitar 4 juta pekerja platform digital di Indonesia, dan angkanya melonjak hingga puluhan juta jika menghitung ekosistem ekonomi digital secara luas. 

Mereka yang termasuk di dalamnya mulai dari pengemudi ojek online, kurir, freelancer, kreator konten, hingga penjual daring.

Namun, ketergantungan pada platform ini menyisakan kerentanan besar. Nasib para pekerja kini sangat bergantung pada pembaruan sistem yang bisa berubah sewaktu-waktu. 

Denny mencontohkan bagaimana seorang pengemudi ojek online bisa mendadak kehilangan mata pencaharian hanya karena sebuah notifikasi di ponselnya.

Mirisnya, pemutusan hubungan kerja tersebut tidak dilakukan oleh manusia, melainkan dieksekusi langsung oleh sistem.

Berbeda dari Teori Marx dan Guy Standing

Denny menjelaskan bahwa karakteristik DVC berbeda dengan kelas pekerja yang ada dalam teori-teori sosial terdahulu, seperti kelompok proletariat milik Karl Marx atau precariat dari Guy Standing.

Jika kaum proletariat tunduk pada pemilik pabrik dan precariat terjebak dalam ketidakstabilan pasar kerja, DVC sepenuhnya dikendalikan oleh sistem digital.

“Jika pasar menentukan nasib precariat, maka algoritma menentukan nasib DVC,” kata Denny JA.

Lebih lanjut, Denny mengidentifikasi tiga ciri utama yang melekat pada kelompok DVC:

Kerentanan Algoritmik: Pendapatan dan kelangsungan kerja mereka bisa berubah drastis akibat keputusan sistem digital yang tidak transparan.

Identitas Kolektif Digital: Meski bekerja secara terisolasi di lokasi berbeda dan jarang bertatap muka, mereka disatukan oleh solidaritas baru melalui aplikasi dan komunitas daring.

Kerawanan Harapan: Para pekerja kerap menggantungkan nasib pada hal-hal yang tidak pasti, seperti berharap unggahannya viral, mendapatkan rating tinggi, atau adanya perubahan algoritma yang berpihak pada mereka.

Harapan ini menjadi energi sekaligus beban psikologis.

Meski belum sepenuhnya menjadi kelas sosial yang mapan, Denny menilai DVC adalah kandidat terkuat kelas sosial baru yang merepresentasikan abad ini.

“Abad ke-19 melahirkan proletariat. Abad ke-20 melahirkan precariat. Abad ke-21 mungkin akan dikenang sebagai abad yang melahirkan manusia yang hidup di bawah bayang-bayang algoritma,” ujar Denny JA.

Desakan Regulasi untuk Perlindungan Pekerja

Menyikapi fenomena ini, Denny menegaskan bahwa pemerintah maupun pemilik platform tidak boleh lagi bersembunyi di balik tameng inovasi. Regulasi yang ketat dan berkeadilan sudah sangat mendesak untuk diterapkan di Indonesia. 

Di Eropa, langkah antisipasi telah diambil melalui Platform Work Directive demi menjamin hak-hak pekerja digital. Indonesia dinilai perlu segera mengadopsi aturan serupa agar fleksibilitas ekonomi digital tidak mengorbankan kesejahteraan para pekerjanya.

Sebagai penutup esainya, Denny memberikan sebuah peringatan penting mengenai arah peradaban manusia ke depan. Menurutnya, tantangan terbesar di masa depan bukan lagi konflik klasik antarkelas.

“Pertarungan terbesar abad ke-21 bukan lagi semata antara buruh dan pemilik modal, melainkan antara manusia dan sistem teknologi yang diciptakannya sendiri,” tandasnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: