Prabowo Sebut Indonesia Rugi Rp15 Ribu Triliun Akibat Dugaan Manipulasi Laporan Perdagangan

Oleh: Lydia Fransisca
Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32 WIB
Presiden Prabowo Subianto berpidato Penutupan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) (BeritaNasional/Setpres)
Presiden Prabowo Subianto berpidato Penutupan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) (BeritaNasional/Setpres)

BeritaNasional.com -  Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan, Indonesia mengalami kerugian hingga 908 miliar dolar AS atau sekitar Rp15 ribu triliun dalam 34 tahun.

Hal tersebut terjdi akibat praktik under invoicing atau laporan palsu dalam perdagangan. 

Pernyataan ini disampaikan Prabowo saat Penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di Bangkalan Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).

"Setelah kita hitung, ini angka kembali lagi dari PBB, kita telah rugi 908 miliar dolar selama 34 tahun atau Rp15 ribu triliun. Rp15 ribu triliun,” kata Prabowo.

"Yang terjadi adalah yang disebut under invoicing atau laporan palsu. Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1.000 ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Artinya negara rugi,” tambah dia.

Sebelumnya, Prabowo juga telah menyinggung praktik under-invoicing dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-19 pada Rabu (20/5/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut bahwa tidak semua keuntungan ekspor tinggal di dalam negeri.

Iamenyinggung praktik under-invoicing, under accounting, transfer pricing, hingga penyelundupan sebagai celah yang membuat penerimaan negara tidak optimal.

"Selama 34 tahun, apa yang terjadi adalah apa yang disebut under-invoicing. Under-invoicing adalah fraud atau penipuan. Yang dijual pengusaha tidak dilaporkan yang sebenarnya. Banyak dari mereka membuat perusahaan di luar negeri," kata Prabowo.

 sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: