Lebih dari 20 Tahun Mengabdi untuk Google, Bapak Internet Vinton Cerf Akhirnya Pensiun

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 01 Juli 2026 | 18:40 WIB
Kepala Pengembang Internet Google Vinton Cerf. (Foto/X Vinton G. Cerf)
Kepala Pengembang Internet Google Vinton Cerf. (Foto/X Vinton G. Cerf)

BeritaNasional.com - Ilmuwan komputer legendaris Vinton Cerf yang dijuluki sebagai Bapak Internet mengumumkan pensiun dari jabatannya sebagai kepala Pengembang Internet Google.

Kabar pensiunnya pria berusia 83 tahun ini terungkap dalam konferensi Open Frontier yang digelar oleh Laude Institute. 

Dilansir dari TechCrunch pada Rabu (1/7/2026), Dave Patterson, profesor dari UC Berkeley sekaligus pionir arsitektur prosesor RISC, memberikan apresiasi luar biasa kepada Vinton.

"Vint telah mengabdi di Google selama lebih dari 20 tahun dan akan pensiun seminggu lagi. Saya rasa kita semua harus memberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk sebuah perjalanan karier yang luar biasa," ujar Patterson.

Nama Vinton Cerf bersama kolaboratornya, Robert Kahn, akan tercatat dalam sejarah sebagai arsitek utama protokol jaringan yang melahirkan internet seperti yang dinikmati hari ini.

Melalui pengembangan TCP/IP pada 1970-an, seperangkat aturan dasar yang memungkinkan berbagai jaringan komputer berbeda untuk saling berkomunikasi, Cerf telah mengubah wajah dunia. 

Atas jasa besarnya tersebut, ia telah dianugerahi berbagai penghargaan tertinggi dunia, mulai Medali Kebebasan Presiden hingga Turing Award (penghargaan setara Nobel di bidang ilmu komputer). 

Sejak 2005, Cerf mendedikasikan ilmunya di Google sebagai Wakil Presiden dan Kepala Pengembang Internet.

Dalam sesi panel bersama para tokoh open-source dunia seperti François Chollet dan Matei Zaharia (pendiri Databricks), diskusi ini banyak menyoroti kekhawatiran atas monopoli model AI canggih oleh segelintir laboratorium raksasa yang kaya raya.

Kondisi ini sangat kontras dengan konsep internet terbuka dan terdesentralisasi yang dulu dibangun oleh Cerf.

Meski demikian, Cerf memprediksi bahwa tren masa depan, khususnya kemunculan Agen AI, akan memaksa industri teknologi untuk kembali ke jalur standardisasi dan interoperabilitas, mirip dengan perang protokol internet di masa awal.

Menariknya, saat pakar lain menilai Agen AI cukup berkomunikasi satu sama lain menggunakan bahasa alami manusia seperti bahasa Inggris, Cerf justru menentang keras ide tersebut. Menurutnya, interaksi antar-AI membutuhkan ketelitian dan standar formal yang kaku.

"Saya rasa bahasa Inggris bukan pilihan terbaik. Bahasa manusia itu fleksibel, tapi penuh ambiguitas. Padahal, ketelitian dalam interaksi antar-agen AI itu sangat krusial. Sebuah agen harus benar-benar memastikan agen lainnya paham apa yang baru saja mereka sepakati," papar Cerf.

Ia kemudian memberikan analogi tentang pesan berantai yang dipakai zaman dahulu.

"Ingat permainan pesan berantai zaman dulu? Anda membisikkan sesuatu ke telinga seseorang, dan setelah melewati 10 orang, pesannya berubah total. Bayangkan sekelompok agen AI berbicara satu sama lain menggunakan bahasa alami manusia, jujur, itu agak mengerikan," katanyasinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: