Bencana Hidrometeorologi Kering, 150 KK di Sukabumi Krisis Air

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 01 Juli 2026 | 19:11 WIB
Warga anteri demi mendapatkan air. (BeritaNasional/BNPB)
Warga anteri demi mendapatkan air. (BeritaNasional/BNPB)

BeritaNasional.com -  Bencana hidrometeorologi kering terjadi di sejumlah daerah yang mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan hingga krisis air.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kekeringan terjadi di Kota Sukabumi Jawa Barat, pada Selasa (30/6/2026). Sebanyak 150 kepala keluarga (KK) terdampak di Desa Cikundul Kecamatan Lembur Situ.

"BPBD Kota Sukabumi mendistribusikan 12.000 liter air bersih dengan mengerahkan tiga truk tangki berkapasitas 4.000 liter. Kebutuhan air bersih telah didistribusikan ke penampungan air (toren) bagi masyarakat di wilayah terdampak," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB  Abdul Muhari, Rabu (1/7/2026)

Bencana selanjutnya yakni kebakaran lahan di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Dugaan sementara, api berasal dari korsleting listrik yang pertama kali muncul dari salah satu rumah warga di Desa Pingaran Ilir Kecamatan Astambul.

"Hasil kaji cepat sementara mencatat lima unit rumah rusak berat dan satu unit rumah rusak ringan. Api telah berhasil dipadamkan dan situasi berada dalam kondisi kondusif".

Lebih lanjut, dilaporkan update penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Kondisi terkini per Selasa (30/6) titik api masih ditemukan pada 6 titik yakni Kabupaten Banyuasin 2 titik, Kabupaten Ogan Ilir 2 titik dan Kabupaten Muara Enim 2 titik.

Hasil pencatatan total luas lahan terbakar dari 1 Januari hingga 30 Juni 2026 mencapai 305,39 hektar dengan 210 kejadian karhutla. Hingga kini, tim satgas pemadaman darat dan operasi udara melalui water boombing masih berupaya melakukan pemadaman di lokasi terdampak.

Menyikapi potensi bahaya hidrometeorologi kering, khususnya kekeringan, BNPB mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak dan menghemat pemakaiannya sesuai kebutuhan. Penyaluran air bersih menggunakan mobil tangki merupakan upaya penanganan sementara untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.

"Apabila masih terdapat peluang hujan, masyarakat dapat menampung air hujan sebagai cadangan untuk digunakan saat pasokan air bersih terbatas," tukasnya. 


 sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: