Di Hadapan Narendra Modi, Puan Kenang Peran Soekarno dalam Sejarah Hubungan Indonesia-India

Oleh: Ahda Bayhaqi
Selasa, 07 Juli 2026 | 17:35 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani duduk berdampingan dengan PM Narendra Modi. (BeritaNasional/YT Narendra Modi)
Ketua DPR RI Puan Maharani duduk berdampingan dengan PM Narendra Modi. (BeritaNasional/YT Narendra Modi)

BeritaNasional.com - Ketua DPR RI Puan Maharani mengenang peran Presiden pertama RI Soekarno dalam sejarah hubungan Indonesia dan India. Hal itu disampaikan Puan dalam pidato sambutan kunjungan kenegaraan Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Puan mengingat peran kakeknya, Soekarno, menjadi tamu kehormatan utama pada peringatan Hari Republik India pertama pada tahun 1950.

"Yang Mulia, Indonesia dan India memiliki akar sejarah yang sangat panjang dan istimewa. Sejarah mencatat bahwa Presiden Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia yang juga merupakan kakek saya, menjadi tamu kehormatan utama pada peringatan Hari Republik India yang pertama pada tahun 1950," ujar Puan dalam sambutan.

Hubungan Indonesia dan India, kata Puan, tidak hanya dibangun melalui hubungan diplomatik tetapi juga ikatan sejarah yang kuat. Beberapa tahun setelah peringatan Hari Republik India pertama, Indonesia dan India mencatat sejarah menjadi co-sponsor Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955.

"Beberapa tahun kemudian, Indonesia dan India bersama-sama menjadi co-sponsor konferensi Asia Afrika di Bandung dan menghidupkan semangat Dasasila Bandung pada tahun 1955 yang kemudian menjadi fondasi Gerakan Non-Blok," ujar Puan.

Puan juga menyinggung nilai historis Gedung DPR yang menjadi tempat kunjungan kenegaraan Narendra Modi. Gedung parlemen ini memilki keterkaitan dengan gagasan besar Soekarno mengenai peran negara berkembang dalam tatanan dunia.

"Saat ini Yang Mulia kami sambut di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, sebuah bangunan dengan nilai sejarah yang penting bagi Indonesia," tuturnya.

"Gedung ini dibangun pada tahun 1965 sebagai bagian dari rencana penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces atau CONEFO, sebuah gagasan strategis Presiden Soekarno yang mencerminkan aspirasi negara-negara berkembang untuk memiliki posisi setara dan turut menentukan dalam tatanan global pada saat itu," jelasnya.

Semangat melandasi pembangunan gedung tersebut masih dijaga hingga kini dalam pelaksanaan fungsi parlemen dan diplomasi Indonesia.

"Hingga hari ini, semangat tersebut tetap kami jaga dalam pelaksanaan fungsi parlemen dan diplomasi Indonesia," tegas Puan.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: