Harga Minyak Dunia Melonjak 9 Persen setelah Selat Hormuz Kembali Memanas

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 15 Juli 2026 | 04:00 WIB
Ilustrasi minyak dunia. (Foto/Freepik)
Ilustrasi minyak dunia. (Foto/Freepik)

BeritaNasional.com - Harga minyak mentah dunia langsung meroket tajam hingga lebih dari 9 persen pada perdagangan Senin (13/7/2026). 

Lonjakan ini dipicu oleh keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengumumkan AS akan memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran di Selat Hormuz.

Di New York Mercantile Exchange, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus melonjak sebesar 6,73 dolar AS, atau naik 9,42 persen, hingga bertengger di level 78,14 dolar AS per barel.

Sementara itu, di London ICE Futures Exchange, minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman September juga melesat 7,29 dolar AS, atau 9,59 persen, menjadi 83,30 dolar AS per barel.

Pengumuman Blokade Lewat Media Sosial

Langkah agresif Washington ini dikonfirmasi langsung oleh Presiden Trump melalui unggahan di platform media sosial miliknya.

"Kami memberlakukan kembali blokade Iran, yang dinamakan demikian karena hanya menghentikan kapal atau pelanggan Iran untuk masuk atau keluar," tulis Trump di Truth Social pada Selasa (14/7/2026).

Akibat meningkatnya eskalasi militer dan saling serang antara armada AS dan Iran, lalu lintas pelayaran di jalur perdagangan vital tersebut langsung merosot tajam karena kekhawatiran faktor keselamatan.

Berdasarkan data dari perusahaan pelacak maritim Kpler, hanya ada 14 kapal yang berani melintasi Selat Hormuz pada Minggu (12/7/2026) menjadi angka lalu lintas harian terendah dalam sebulan terakhir.

Reaksi Pasar Terhadap Risiko Geopolitik

Para analis menilai lonjakan harga ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa, melainkan respons nyata pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global yang serius.

"Apa yang kita saksikan lebih dari sekadar pemulihan teknis jangka pendek. Ini menunjukkan penyesuaian harga yang jelas terhadap risiko geopolitik di pasar energi," kata Rania Gule, analis pasar di platform perdagangan online XS.com, dalam sebuah catatan resminya.

Gule menambahkan pasar saat ini tidak hanya merespons ketegangan militer di lapangan, tetapi juga mengalkulasi risiko jangka panjang dari tersendatnya aliran distribusi minyak mentah dunia. 

Menurut dia, harga minyak kemungkinan besar akan tetap bertahan di level tinggi selama ketegangan geopolitik ini terus berlanjut tanpa adanya solusi diplomatik yang berarti.

Sumber: Xinhua Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: