Qodari Sebut Program B50 Jadi Kunci Ketahanan Energi dan Ekonomi Indonesia

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 14 Juli 2026 | 04:00 WIB
Minyak B50. (BeritaNasional/dok ESDM)
Minyak B50. (BeritaNasional/dok ESDM)

BeritaNasional.com - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menegaskan program mandatori biodiesel B50 yang mulai diberlakukan pemerintah pada 1 Juli 2026 merupakan kebijakan strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

Menurut Qodari, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan kebijakan biodiesel B50 secara nasional sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dalam negeri.

"Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan kebijakan biodiesel B50 secara nasional. Kebijakan ini menjadi bagian dari agenda strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM, memperkuat nilai tambah sumber daya alam nasional, serta menjaga ketahanan ekonomi dan energi Indonesia," kata Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari dalam keterangannya, Senin (13/7).

Qodari menjelaskan, program mandatori B50 mewajibkan pencampuran bahan bakar yang terdiri atas 50 persen solar dan 50 persen bahan bakar berbasis minyak nabati. Saat ini, implementasi B50 dilakukan secara bertahap dengan masa transisi selama tiga bulan.

"Ditargetkan pada 1 Oktober 2026, seluruh SPBU sudah menjual B50," ujarnya.

Ia menjelaskan program mandatori biodiesel telah dimulai sejak 2008 dengan penerapan B2,5 sebelum secara bertahap meningkat hingga mencapai B50 pada tahun ini.

Menurut Qodari, implementasi B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara dalam jumlah signifikan.

"Program ini diarahkan untuk menghentikan impor solar sepenuhnya. B50 diproyeksikan dapat menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun pada 2026," tuturnya.

Selain mengurangi impor solar, program B50 juga diperkirakan memberikan dampak ekonomi berupa peningkatan nilai tambah minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebesar Rp23,49 triliun serta menciptakan sekitar 2,1 juta lapangan kerja.

Dari sisi lingkungan, penggunaan biodiesel B50 diharapkan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO₂ sepanjang 2026.

Qodari mengatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah untuk memastikan implementasi program berjalan optimal. Dari sisi teknis, pemerintah telah melakukan pengujian penggunaan B50 pada berbagai sektor pengguna mesin diesel guna memastikan kinerja, keamanan, dan kesesuaian bahan bakar tersebut.

"Dari aspek pasokan dan distribusi, pemerintah memastikan kesiapan kapasitas produksi biodiesel, ketersediaan bahan baku, serta infrastruktur pencampuran (blending) dan distribusi," kata Qodari.

Ia menegaskan bahwa kemandirian energi merupakan salah satu syarat utama agar Indonesia mampu berdiri sebagai bangsa yang berdaulat. Karena itu, program mandatori B50 menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi dengan memanfaatkan sumber daya alam nasional.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: