Semangat Sumpah Pemuda 2025 Jadi Pedoman Aksi Nyata Hadapi Tantangan Bangsa

Oleh: Tarmizi Hamdi
Rabu, 29 Oktober 2025 | 12:30 WIB
Siswa mengamati diorama kongres pemuda usai mengikuti upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Selasa (28/10/2025).  (Beritanasional/Oke Atmaja)
Siswa mengamati diorama kongres pemuda usai mengikuti upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta, Selasa (28/10/2025). (Beritanasional/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Pada peringatan Sumpah Pemuda 2025, akademisi dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) menyerukan agar generasi muda, khususnya mahasiswa, tidak hanya mengenang momen tersebut sebagai catatan sejarah.

Sebaliknya, Sumpah Pemuda harus dijadikan pedoman aksi nyata untuk menghadapi tantangan kebangsaan kontemporer, terutama di era digital.

Hal tersebut disampaikan oleh Nazarudin M.A., dosen linguistik Program Studi Indonesia FIB UI.

Menurut dia, semangat Sumpah Pemuda, yang salah satu unsurnya adalah menjunjung tinggi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, harus diwujudkan dalam tindakan nyata generasi muda.

"Pesan saya di momen Sumpah Pemuda 2025 adalah agar generasi muda, khususnya mahasiswa, tidak hanya mengingat Sumpah Pemuda sebagai naskah sejarah, tetapi menjadikannya pedoman aksi nyata dalam menghadapi tantangan kebangsaan kontemporer, terutama di era digital," tegas dosen lulusan Universitas Indonesia (S-1) pada 2005 dan Universitas Inha (S-2) pada 2010 itu kepada Beritanasional.com, Selasa (28/10/2025).

Ia menekankan bahwa mahasiswa memiliki peran sentral. Mereka harus menjadi pelopor pengutamaan Bahasa Indonesia yang sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda 1928 dan amanat dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Aksi nyata pengutamaan Bahasa Indonesia ini, lanjut Nazarudin, harus diimplementasikan melalui semangat Trigatra Bangun Bahasa, yaitu:

1. Utamakan Bahasa Indonesia.

2. Lestarikan Bahasa Daerah.

3. Kuasai Bahasa Asing.

Nazarudin menambahkan, di momen penting ini, fokus aksi harus bergeser dari sekadar kebanggaan menjadi kemahiran.

"Jangan hanya bangga berbahasa Indonesia, tetapi jadilah mahir berbahasa Indonesia," serunya.

Kemahiran berbahasa ini adalah perwujudan kedaulatan, fondasi etika komunikasi yang baik, dan menjadi modal utama untuk membangun bangsa yang satu, berdaulat, dan berbudaya di tengah arus globalisasi.

‘’Mahir berbahasa Indonesia sebagai perwujudan kedaulatan, fondasi etika komunikasi, dan modal utama untuk membangun bangsa yang satu, berdaulat, dan berbudaya,’’ tandas dosen Program Studi Sastra Indonnesia FIB UI ini.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: