Profil Pahlawan Nasional Sarwo Edhie Wibowo, Prajurit Revolusioner yang Jadi Kunci Penumpasan G30S

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 10 November 2025 | 15:41 WIB
Profil pahlawan nasional Sarwo Edhie Wibowo, prajurit revolusioner yang jadi kunci penumpasan G30S. (Foto/Facebook Kokam Indonesia)
Profil pahlawan nasional Sarwo Edhie Wibowo, prajurit revolusioner yang jadi kunci penumpasan G30S. (Foto/Facebook Kokam Indonesia)

BeritaNasional.com - Letnan Jenderal (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah militer Indonesia, sehingga pemberian gelar pahlawan nasional kepadanya adalah hal yang semestinya. Selain perannya dikenal luas dalam penumpasan Gerakan 30 September (G30S/PKI) tahun 1965 lampau. Sebagai Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), Sarwo Edhie menjadi sosok sentral dalam menjaga stabilitas keamanan saat transisi kepemimpinan Presiden Soekarno ke Soeharto.

Biodata Singkat Sarwo Edhie

Nama Lengkap: Sarwo Edhie Wibowo

Tempat, Tanggal Lahir: Purworejo, Jawa Tengah, 25 Juli 1925

Wafat: Jakarta, 9 November 1989

Kebangsaan: Indonesia

Agama: Islam

Profesi: Militer, Diplomat, Politikus

Pangkat Terakhir: Letnan Jenderal TNI

Kesatuan: Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).

Keluarga Sarwo Edhie

Sarwo Edhie Wibowo merupakan anak dari pasangan Raden Kartowilogo dan Raden Ayu Sutini berasal dari keluarga PNS bekerja untuk Pemerintah Kolonial Belanda.

Ia menikah dengan Sunarti Sri Hadiyah dan dikaruniai tujuh orang anak. Beberapa anaknya yang dikenal publik yakni Kristiani Herrawati aau dikenal dengan Ani Yudhoyono, istri dari Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), lalu Pramono Edhie Wibowo yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), dan Hartanto Edhie Wibowo yang kini menjadi politisi Partai Demokrat.

Empat anak lainnya yakni Widjiasih Tjahjasasi, Wirahasti Tjendrawasih, Mastuti Rahaju, dan Retno Tjahjaningtyas

Dari garis keturunannya, muncul pula cucu-cucu yang kini berkiprah dalam dunia politik dan pemerintahan, seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) yang menjabat Wakil Ketua MPR RI.

Keluarga besar Sarwo Edhie dikenal sebagai keluarga dengan tradisi kuat dalam pengabdian terhadap negara dan militer, dan meneruskan nilai-nilai perjuangan yang ia tanamkan sejak muda.

Pendidikan Sarwo Edhie

Sarwo Edhie menempuh pendidikan dasarnya di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) Purworejo, kemudian melanjutkan ke SMP Muhammadiyah Yogyakarta, dan AMS (Algemeene Middelbare School) Yogyakarta.

Ketertarikannya pada dunia militer muncul sejak muda. Pada masa pendudukan Jepang, ia masuk dalam pendidikan militer PETA (Pembela Tanah Air) dan mendapatkan pelatihan dasar yang kelak membentuk kedisiplinan serta kepemimpinan kuat dalam dirinya. Setelah Indonesia merdeka, ia terus memperdalam ilmu kemiliteran melalui berbagai pendidikan militer lanjutan, baik di dalam maupun luar negeri.

Perjalanan Karier Sarwo Edhie

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, Sarwo Edhie bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang menjadi cikal bakal dari TNI. Ia turut berjuang dalam berbagai pertempuran melawan penjajah Belanda di masa Revolusi Kemerdekaan.

Disiplin, keberanian, dan kepemimpinan militernya membuat ia cepat menanjak dalam karier. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak kenal kompromi terhadap ketidakdisiplinan dan berpegang teguh pada prinsip tanggung jawab terhadap negara.

Nama Sarwo Edhie mulai dikenal secara nasional pada tahun 1965, ketika Indonesia diguncang oleh Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) yang menewaskan sejumlah jenderal Angkatan Darat. Pada saat itu, ia menjabat sebagai Komandan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) pasukan elite yang menjadi ujung tombak dalam operasi militer, yang kini lebih dikenal Kopassus.

Dengan keberanian dan ketegasannya, Sarwo Edhie memimpin pasukannya menumpas jaringan PKI di berbagai daerah, termasuk Jakarta, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Aksi ini membuatnya menjadi tokoh penting dalam menjaga stabilitas dan keutuhan NKRI pada masa transisi kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Soeharto.

Perannya yang tegas dalam operasi tersebut juga menjadikan Sarwo Edhie sebagai simbol ketegasan dan kesetiaan terhadap Pancasila dan NKRI, meskipun langkah-langkahnya juga menuai kontroversi di kalangan tertentu.

Setelah masa penumpasan G30S, Sarwo Edhie terus dipercaya mengemban berbagai jabatan strategis di pemerintahan dan militer, antara lain: Komandan Akademi Militer (Akmil) Magelang, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan dan Anggota MPR RI.

Nilai-Nilai Keteladanan Sarwo Edhie

Sarwo Edhie dikenal sebagai sosok prajurit sejati dengan karakter tegas, disiplin, dan berintegritas tinggi. Ia memegang prinsip bahwa seorang pemimpin harus bertindak cepat, adil, dan berani demi kepentingan bangsa.

Beberapa nilai yang melekat pada dirinya antara lain:

Disiplin dan Tanggung Jawab: Tidak pernah mentolerir ketidakdisiplinan dalam barisannya

2. Nasionalisme Tinggi: Menempatkan kepentingan bangsa di atas segalanya

3. Keberanian Moral dan Fisik: Berani mengambil keputusan sulit di tengah situasi genting

4. Pendidikan dan Keteladanan: Saat memimpin Lemhannas, ia menekankan pentingnya membentuk karakter pemimpin yang berwawasan kebangsaan.

Warisan dan Pengaruh Sarwo Edhie

Meskipun telah wafat pada 9 November 1989, pengaruh Sarwo Edhie Wibowo masih terasa hingga kini. Ia dikenang sebagai pahlawan penegak ketertiban nasional dan tokoh militer visioner yang berperan besar dalam menjaga keutuhan negara.

Namanya diabadikan di berbagai fasilitas dan institusi militer, sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya. Keturunannya pun banyak yang melanjutkan tradisi pengabdian terhadap bangsa dan negara, menjadikannya figur yang mewariskan semangat patriotisme lintas generasi.

(Rep/Novia Amelia)

sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: