Setengah Populasi Dunia Tinggal di Kota, Jakarta Paling Padat

Oleh: Tarmizi Hamdi
Rabu, 19 November 2025 | 22:30 WIB
Suasana malam Kota Jakarta. (BeritaNasional/Oke Atmaja)
Suasana malam Kota Jakarta. (BeritaNasional/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com - Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis pada Selasa (18/11/2025) mengungkapkan bahwa hampir setengah atau sekitar 45 persen dari total populasi global yang mencapai 8,2 miliar jiwa kini tinggal di perkotaan.

Angka ini meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 1950. Saat itu, hanya 20 persen dari 2,5 miliar penduduk dunia yang tinggal di kota.

Dilansir dari Xinhua News pada Rabu (19/11/2025), laporan bertajuk Prospek Urbanisasi Dunia 2025 menyoroti bagaimana dunia telah menjadi semakin urban, namun juga menunjukkan peran vital kota-kota kecil dan menengah.

Jakarta Paling Padat

Salah satu temuan paling mencolok dalam laporan yang dikeluarkan oleh Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB ini adalah pertumbuhan pesat kota-kota besar (megacities)—wilayah perkotaan dengan populasi 10 juta penduduk atau lebih.

Jumlah megacities telah melonjak empat kali lipat, dari hanya delapan kota pada tahun 1975 menjadi 33 kota pada tahun 2025. Dari jumlah tersebut, 19 di antaranya berada di Asia.

Laporan ini secara spesifik menyebut bahwa Jakarta, Indonesia, kini menjadi kota terpadat di dunia dengan populasi hampir 42 juta jiwa. PBB memproyeksikan jumlah megacities akan terus bertambah menjadi 37 kota pada tahun 2050.

Kota Kecil Tumbuh Lebih Cepat

Meskipun perhatian sering tertuju pada kota-kota besar, laporan PBB menemukan fakta menarik bahwa kota-kota kecil dan menengah sebenarnya menampung populasi yang lebih besar dan mengalami pertumbuhan yang lebih cepat, khususnya di kawasan Afrika dan Asia.

Dari 12.000 kota yang dianalisis:

96 persen memiliki penduduk kurang dari 1 juta jiwa.

81 persen bahkan memiliki populasi kurang dari 250.000 jiwa.

Total jumlah kota di seluruh dunia meningkat lebih dari dua kali lipat antara tahun 1975 dan 2025. Proyeksi menunjukkan bahwa pada tahun 2050, jumlah kota secara global dapat melebihi 15.000, dengan mayoritasnya memiliki populasi di bawah 250.000 jiwa.

Di sisi lain, persentase populasi global yang tinggal di daerah pedesaan terus menurun, hanya menjadi rumah bagi 19 persen populasi global saat ini, turun dari 40 persen pada tahun 1950.

Urbanisasi Kunci Pembangunan Berkelanjutan

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Ekonomi dan Sosial, Li Junhua, menekankan pentingnya peran urbanisasi dalam agenda global.

"Seiring dengan pertemuan pemerintah di COP30 untuk memajukan komitmen iklim global, Perserikatan Bangsa-Bangsa menggarisbawahi peran penting urbanisasi dalam mendorong pembangunan berkelanjutan dan ketahanan iklim di semua jenis permukiman," ujar Li Junhua.

Ia menambahkan bahwa urbanisasi adalah kekuatan penentu zaman ini dan jika dikelola secara strategis, dapat membuka jalur transformatif untuk aksi iklim, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan sosial.

"Untuk mencapai pembangunan wilayah yang seimbang, negara-negara harus mengadopsi kebijakan nasional terpadu yang menyelaraskan perumahan, tata guna lahan, mobilitas, dan layanan publik di seluruh wilayah perkotaan dan pedesaan," tandasnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: