Psikiater Ungkap Faktor Maraknya Bullying Pada Remaja, Cerdas tapi Psikologisnya Rapuh

Oleh: Kiswondari
Jumat, 21 November 2025 | 07:56 WIB
Psikiater PDSKJI dr. Zulvia Syarif ungkap faktor maraknya bullying pada remaja, cerdas tapi psikologisnya rapuh. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)
Psikiater PDSKJI dr. Zulvia Syarif ungkap faktor maraknya bullying pada remaja, cerdas tapi psikologisnya rapuh. (BeritaNasional/Elvis Sendouw)

BeritaNasional.com - Beberapa bulan belakangan ini, kasus bullying atau perundungan santer terdengar dan terjadi di berbagai level pendidikan, mulai dari SD, SMP hingga Perguruan Tinggi (PT). Tak sedikit juga dari para korban bullying ini yang sampai kehilangan nyawanya. Baik akibat bullying kekerasan fisik, maupun bullying kata-kata dan ciberbullying

Terkait fenomena ini, psikiater dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dr. Zulvia Oktanida Syarif mengungkap beberapa faktor yang jadi pemicu maraknya bullying berdasarkan hasil penelitian PDSKJI bertepatan pada Hari Kesehatan Nasional. 

"Di sini kita mendapati fakta bahwa banyak sekali anak di Indonesia yang mengalami masalah bahkan sampai gangguan mental dan ini mengkhawatirkan," kata Zulvia kepada wartawan di Jakarta, yang dikutip Jumat (21/11/2025). 

Sebagai generasi masa depan, kata Zulvia, dan ternyata tantangan pada anak dan remaja usia 13-24 tahun ini adalah kecemasan depresi dan kesulitan mengendalikan emosi. Kesulitan regulasi emosi itulah yang menyebabkan ada anak yang emosional hingga bisa melukai atau berperilaku agresif atau justru kecenderungan agresif ke diri sendiri. 

"Kami ingin melihat adanya keterlibatan dari pusat kendali otak atau fungsi eksekutif pada anak," ujarnya.

Zulvia menjelaskan, riset nasional PDSKJI menemukan, sebanyak 81% anak dan remaja fungsi eksekutif atau kemampuan mengambil keputusannya masih rendah.

"Itulah kenapa remaja mengambil keputusan tidak bijak, bisa mengambil keputusan yang mungkin merugikan dirinya atau orang banyak," terangnya.

Kemudian, sambung dia, dari segi working memory atau memori kerja dan diamati, ada kesulitan mereka untuk menahan impuls. Jadi, apabila ada dorongan emosional atau keadaan, mereka kesulitan untuk mengerem atau mengendalikan impuls mereka.

"Perencanaan dan juga organisasi anak dan remaja pun masih rendah. Serta adanya fungsi spiritual juga sangat rendah," imbuh Zulvia.

Dengan demikian, Zulvia menjelaskan, inti dari hasi penelitian ini menunjukkan bahwa ternyata mayoritas remaja Indonesia tidak siap meregulasi dirinya dalam lingkungan yang bertekanan tinggi. Dengan kondisi mereka yang tidak bisa menahan tekanan itulah yang jadi penyebab banyaknya kasus bullying yang terjadi.

"Mungkin kalau anak-anak remaja itu lebih presisi, tahan banting tekanan sosialnya tinggi, mereka akan bisa lebih menghadapi. Tapi ternyata mereka saat ini tidak mampu untuk menghadapi tekanan ditambah tekanan sosial lebih tinggi, jadilah angka kekerasan bullying dan hal-hal fenomena yang kita hadapi sekarang ini menjadi mencuat," ungkap Zulvia.

Menurut Psikiater yang praktik di Rumah sakit Pondok Indah ini, boleh jadi ada kaitan gangguan fungsi eksekutif atau gangguan fungsi daya pikir otak dengan depresivitas adiksi digital. Meskipun kemajuan teknologi dapat membantu pembelajaran, di sisi lain gadget juga bisa mempercepat gangguan memori, perhatian dan konsentrasi.

"Kita juga melihat kaitannya dengan era digital dan perkembangan otak remaja di mana selain gawai atau gadget membantu proses pembelajaran, tapi juga mempercepat disfungsi atau gangguan pada memori, perhatian, konsentrasi," jelasnya. 

Jadi, kata Zulvia, kalai hal ini tidak dikontrol dengan baik, di mana remaja saat ini memiliki fungsi eksekutif yang lemah. Maka terjadilah kualitas generasi yang cerdas secara akademik namun rapuh secara psikologi.

"Jadi anak-anak kita mungkin mereka berprestasi, cerdas, ranking tapi ternyata mereka lemah secara psikologis dan mereka rapuh," ujar Zulvia.

Oleh karena itu, kata Zulvia, PDSKJI mendorong dilakukannya screening fungsi eksekutif dan kesehatan mental di sekolah. Artinya, sekolah perlu menyadari bagaimana anak-anak ini memiliki kemampuan untuk meregulasi emosi, kemampuan untuk mengambil keputusan.

"Itu perlu dilakukan screening dan juga screening kesehatan mental sepenuhnya," tambahnya.

Selain itu, menurut dia, pelatihan guru dan orang tua dalam mendeteksi dini regulasi emosi juga diperlukan. Sehingga, guru dan orang tua tidak hanya mengajarkan akademik, tapi juga mengajarkan bagaimana cara mengelola konflik dan meregulasi emosi. Serta mengintegrasi kurikulum penguatan fungsi eksekutif, dan perluasan akses layanan kesehatan jiwa remaja. 

"Banyak remaja yang ingin mengakses layanan tapi terhambat atau tidak tahu bagaimana caranya atau bahkan tidak diizinkan oleh orang tua karena stigma ya. Guru BK dan akses layanan kesehatan jiwa lainnya," ungkap Zulvia.

Zulvia juga menekankan perlunya kampanye nasional berbasis sains yang ilmiah dan juga berbasis empati. Serta, perlu adanya suatu kebijakan nasional untuk penguatan fungsi kemampuan eksekutif anak, sehingga remaja Indomesis memiliki kemampuam untuk mengambil keputusan, mengontrol diri dan mengelola emosi.

"Dan mengenai kebijakan terkait kesehatan mental remaja itu juga sepertinya diperlukan karena untuk mewujudkan Indonesia Emas tidak hanya butuh generasi yang cerdas tapi juga generasi yang cerdas secara emosional," tandasnya.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: