Awal Mula Ketegangan AS-Venezuela hingga Pengerahan Kapal Perang di Karibia

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 26 November 2025 | 09:00 WIB
Awal mula ketegangan AS-Venezuela hingga pengerahan kapal perang di Karibia. (Foto/Instagram POTUS dan Maduro)
Awal mula ketegangan AS-Venezuela hingga pengerahan kapal perang di Karibia. (Foto/Instagram POTUS dan Maduro)

BeritaNasional.com - Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Venezuela kembali memanas setelah Washington mengambil langkah yang dinilai sangat berisiko dan bisa memicu konflik besar di kawasan dengan menuding Venezuela sebagai sarang kartel narkoba global.

Bahkan sejak pertengahan September 2025, Trump menyudutkan Venezuela dengan kekuatan militernya, mulai dari mengirimkan jet tempur F-35 di wilayah udara Venezuela hingga menembaki kapal yang melintas di perairan Karibia.

Lantas, bagaimana awal mula ketegangan Venezuela dan AS? Berikut adalah awal mula ketegangan AS dan Venezuela, yang dikutip BeritaNasional dari berbagai sumber, Rabu (26/11/2025). 

Awal Ketegangan Amerika dan Venezuela

Melansir Antara, Ketegangan dua negara ini berawal dari tudingan yang dilayangkan AS pada Februari 2025 lalu. Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio menyampaikan bahwa Washington telah menetapkan sejumlah kartel narkoba sebagai organisasi teroris global termasuk Kartel de los Soles di Venezuela.

Berlanjut pada 19 Agustus 2025, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa Trump siap menggunakan "setiap elemen kekuatan Amerika" untuk memerangi perdagangan narkoba, tanpa mengesampingkan kemungkinan operasi militer di Venezuela.

Hal ini lantas membuat Presiden Venezuela Nicolas Maduro turun tangan, hingga meminta dukungan dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam menghadapi ancaman Amerika pada 26 Agustus 2025 lalu, sebagaimana yang disampaikan Menlu Venezuela Yvan Gil. 

Gil menyampaikan bahwa Komunitas Negara-negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC) telah mendeklarasikan kawasan tersebut sebagai zona damai pada 2014. Langkah tersebut pun telah dikonfirmasi oleh PBB, tetapi kini negara-negara Amerika Latin berada di bawah ancaman AS. Ia pun membantah "narasi palsu" yang digunakan AS soal kartel narkoba. 

Pelan tapi pasti, Trump mengerahkan kekuatan militer AS mendekati Venezuela. Melansir CNBC pada 13 September 2025, terlihat pesawat tempur canggih F-35 milik AS di langit Puerto Rico, helikopter Orsey juga terlihat beraktivitas di dekat Venezuela. Lalu pada 3 Oktober 2025, CNN melaporkan lima pesawat tempur siluman F-35 terbang di dekat pantai Venezuela.

Bahkan pada 24 Oktober 2025, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, memerintahkan kapal perang terbesar AS yakni kapal induk USS Gerald R Ford, yang dapat mengangkut hingga 90 pesawat tempur, untuk bertolak dari Laut Mediterania.

Seperti api dalam sekam, AS terus memberikan tekanan pada Venezuela. Melansir AFP pada 27 Oktober 2025, kapal perang AS dengan sengaja melakukan latihan militer gabungan dengan Trinidad dan Tobago, yang terletak di dekat wilayah Venezuela. Caracas menyebut latihan militer Washington tersebut sebagai bentuk "provokasi" saat ketegangan kedua negara meningkat.

Tak hanya itu, Trump secara terang-terangan mengutus agen CIA ke untuk melakukan aksi intelijen di Venezuela sejak sebulan lalu. 

Pada 16 November 2025, Pemerintah Amerika Serikat justru menetapkan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro serta sejumlah pejabat dekatnya sebagai teroris karena dianggap terhubung dengan Kartel de los Soles, kelompok yang telah dicap sebagai organisasi teroris asing.

Berbarengan dengan itu, Trump mengerahkan kekuatan militer AS secara besar-besaran ke perairan Karibia. Lebih dari selusin kapal perang serta sekitar 15.000 tentara sudah ditempatkan di dekat wilayah Venezuela.

Trump dikabarkan telah menerima berbagai opsi dari pejabat tinggi pemerintahannya terkait langkah yang dapat diambil di Venezuela, mulai dari serangan ke fasilitas militer dan pemerintah hingga operasi penggerebekan khusus. Meski demikian, pilihan untuk tidak melakukan tindakan apa pun tetap dipertimbangkan.

Pada saat yang sama, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, bersama penasihat seniornya David Isom, dijadwalkan mengunjungi Puerto Riko pada hari Senin untuk menyampaikan penghargaan kepada para prajurit yang mendukung misi Amerika di kawasan Karibia.

Namun, keterlibatan militer AS di wilayah tersebut memunculkan kritik di dalam negeri. Sebuah survei CBS News/YouGov yang dirilis pada Minggu menunjukkan bahwa 70% warga AS menolak kemungkinan aksi militer terhadap Venezuela, sementara hanya 30% yang mendukung. Selain itu, 76% responden menilai pemerintahan Trump belum memberikan penjelasan yang jelas mengenai sikap AS dalam isu ini.

Secara resmi, pemerintah Trump menyatakan bahwa langkah tersebut dilakukan untuk menekan arus migrasi ilegal dan penyelundupan narkoba. Namun, upaya perubahan rezim di Venezuela dianggap bisa menjadi efek samping yang tidak terhindarkan. Seorang pejabat AS menyebut Trump berharap tekanan politik cukup kuat untuk membuat Maduro mundur tanpa perlu melancarkan serangan langsung.

Pemerintah Venezuela pun mengecam penetapan tersebut sebagai organisasi teroris asing, menyebutnya sebagai "tuduhan yang tidak masuk akal". Meski demikian, Trump tetap menyatakan bahwa pintu diplomasi masih terbuka. Ia menyebut bahwa Maduro menunjukkan keinginan untuk berdialog dan dirinya bersedia berbicara “pada waktu yang tepat”.

Pejabat Venezuela disebut telah menghubungi Gedung Putih melalui beberapa jalur komunikasi, dan perbincangan mengenai kemungkinan bentuk dialog antara kedua negara masih berlangsung. Salah satu alternatif yang dipertimbangkan adalah pertemuan langsung antara Trump dan Maduro, meski belum ada keputusan lebih lanjut mengenai hal itu.

Tak hanya dukungan dari negara-negara Amerika Latin, Venezuela juga mendapatkan dukungan dari Rusia. Melansir The War Zone pada 24 November 2025, jenderal terkenal Rusia diterjunkan untuk memimpin pelatihan militer Caracas, karena khawatir AS akan menginvasi negara sekutu Rusia di kawasan Amerika Latin itu. 

Dia adalah Kolonel Jenderal Oleg Makarevich, komandan satuan tugas Equator dari Kementerian Pertahanan Rusia, yang memimpin misi Moskow dan bertanggung jawab atas pelatihan militer Caracas.

(Rep/Shafira)sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: