Kecurangan Peserta dan Pengawas hingga Serangan Siber, Mendikdasmen Ungkap 5 Kendala Pelaksanaan TKA
BeritaNasional.com - Dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi X DPR, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti melaporkan adanya sejumlah kendala dalam pelaksanaan tes kemampuan akademik (TKA) pada awal November 2025 lalu. Berdasarkan hasil pengawasan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menemukan setidaknya lima masalah dalam TKA, mulai dari hingga serangan siber.
"Selama pelaksanaan TKA, terdapat beberapa kendala utama, seperti adanya pemadaman listrik akibat cuaca ekstrem di beberapa kabupaten di wilayah Nusa Tenggara Timur," kata Mu'ti di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (26/11/2025).
Dalam pemaparannya, Mu'ti melanjutkan, peserta yang terdampak pemadaman listrik itu dijadwalkan ulang untuk mengikuti TKA susulan pada 17-23 November 2025. Kendala berikutnya, terdapat temuan serangan siber saat pelaksanaan TKA pada hari kedua, Selasa (4/11/2025), pukul 13.38 WIB.
"Ada serangan siber ke server pusat," ujar Mu'ti.
Dalam presentasi yang ditampilkan di layar, tertulis bahwa serangan siber itu berupa permintaan yang membanjiri sistem pusat. Serangan itu diklaim langsung terdeteksi oleh dashboard pengawasan dan ditangani oleh tim teknis. Dalam waktu 2 menit 10 detik serangan disebut berhasil diatasi dan sistem kembali normal. "Layanan untuk murid tetap aman dan tidak terdampak," tulis isi laporan Kemendikdasmen itu.
Masalah ketiga penyelenggaraan TKA, Mu'ti melaporkan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh peserta hingga pengawas. Namun, ia tidak merinci bentuk pelanggaran tersebut.
"Pelaksanaan tahun ini juga tidak terlepas dari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan baik oleh peserta tes, maupun pengawas atau teknisi," terangnya.
Mu'ti menegaskan, Kemendikdasmen tidak menoleransi praktik-praktik kecurangan yang terjadi. Mu'ti pun berjanji akan menindak tegas para pelanggar dengan pemberian sanksi yang setimpal.
Kemudian, kata dia, kendala keempat adalah anggapan siswa bahwa soal TKA terlalu sulit dan belum diajarkan oleh sekolah. Dan kendala kelima, tidak semua murid berpartisipasi melakukan simulasi TKA mandiri. Bahkan, menurut Kemendikdasmen, 75,78 persen sekolah tidak melaksanakan simulasi yang dianggap menjadi penyebab murid kesulitan menggunakan perangkat komputer.
"Penyelenggaraan TKA masih terdapat sejumlah kekurangan dan tantangan yang perlu diperbaiki, baik dari sisi teknis, operasional, maupun aspek penguatan integritas," kata Mu'ti.
Meski demikian, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah ini menegaskan bahwa Kemendikdasmen akan berupaya maksimal menindaklanjuti temuan-temuan tersebut agar pelaksanaan TKA ke depan lebih efektif dan akuntabel. Kemendikdasmen pun berkomitmen memperbaiki penyelenggaraan TKA melalui beberapa langkah strategis.
Pertama, Mu'ti menyampaikan, penguatan sosialisasi kebijakan tentang pemahaman terhadap program kepada sekolah, siswa, dan orang tua. Program TKA akan disosialisasikan dengan menekankan pentingnya kepemilikan asesmen terstandar sebagai bagian dari sistem pendidikan.
Melalui antisipasi itu, Mu'ti berharap TKA tidak hanya menjadi alat ukur capaian belajar, tetapi juga menjadi sarana menanamkan kesadaran akan nilai kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab sejak dini. Lalu strategi kedua adalah pemberian sanksi tegas bagi yang melakukan kecurangan saat TKA.
"Kedua, kami akan menindak tegas setiap bentuk pelanggaran sekecil apapun guna menjaga integritas dan keadilan dalam pelaksanaan TKA," tegas Mu'ti.
EKBIS | 1 hari yang lalu
HUKUM | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 10 jam yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







