Pemimpin Eropa Tolak Keras Kesepakatan Damai Ukraina-Rusia Tanpa Negosiasi

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 02 Desember 2025 | 10:00 WIB
Presiden Republik Prancis Emmanuel Macron saat berada di Indonesia. (Foto/BPMI)
Presiden Republik Prancis Emmanuel Macron saat berada di Indonesia. (Foto/BPMI)

BeritaNasional.com - Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Friedrich Merz, dan para pemimpin Eropa lain kompak menolak keras segala bentuk kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina yang dinegosiasikan tanpa melibatkan suara Kyiv dan Eropa.

Penolakan tegas ini disampaikan di tengah mencuatnya usulan Rencana Perdamaian 28 poin dari Amerika Serikat dua pekan lalu dan rencana pertemuan antara Presiden Rusia Vladimir Putin dengan utusan khusus AS di Moskow pada Senin (1/12/2025).

Macron: Tidak Ada Rencana Final Tanpa Eropa

Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa setiap "rencana perdamaian" terkait konflik Rusia-Ukraina harus melalui negosiasi yang melibatkan Ukraina dan Eropa.

"Setiap rencana perdamaian hanya dapat diselesaikan dengan melibatkan perundingan antara Eropa," ujar Macron dalam konferensi pers bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Istana Elysee pada Senin yang dikutip dari Xinhua News.

Macron menekankan bahwa hingga saat ini belum ada rencana perdamaian yang final. Ia menambahkan bahwa isu-isu krusial seperti aset Rusia yang dibekukan, jaminan keamanan, hingga potensi aksesi Ukraina ke Uni Eropa, hanya bisa diselesaikan melalui perundingan bersama Eropa.

Merz: Menentang Perdamaian yang Dipaksakan

Sikap serupa disuarakan oleh Kanselir Jerman Friedrich Merz. Merz secara tegas menyatakan bahwa Jerman menentang perdamaian yang dipaksakan di atas kepala Ukraina.

"Tidak ada keputusan tentang Ukraina dan Eropa tanpa warga Ukraina dan tanpa warga Eropa," kata Merz dalam konferensi pers terpisah di Berlin setelah bertemu dengan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk.

Tusk yang menunjukkan dukungan penuh Polandia terhadap Ukraina turut mencatat upaya bersama Polandia dan Jerman dalam memperkuat keamanan Eropa.

Tuntutan Zelensky dan Sikap Baltik

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam kesempatan itu menyatakan bahwa Ukraina berusaha mengakhiri konflik "dengan cara yang bermartabat."

Ia menyerukan jaminan keamanan yang "kokoh" dan mengakui bahwa "masalah teritorial akan menjadi yang paling sulit" dalam perundingan mendatang.

Senada dengan Jerman dan Prancis, Presiden Latvia Edgars Rinkevics juga menegaskan bahwa Eropa harus hadir di meja perundingan. Menurutnya, tiga prinsip utama harus dihormati dalam perjanjian damai: keutuhan wilayah Ukraina, kedaulatan, dan kepentingan keamanan Ukraina.

Menurut Istana Elysee, selain Macron dan Zelensky, diskusi di Paris hari Senin juga melibatkan para pemimpin Eropa, serta negosiator dari Amerika Serikat dan Ukraina.

Meskipun Eropa menolak kesepakatan sepihak, perhatian kini tertuju ke Moskow. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengumumkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan bertemu dengan utusan khusus Presiden AS, Steve Witkoff, pada Selasa untuk membahas pengakhiran konflik.

Pertemuan ini dilakukan setelah "rencana perdamaian" 28 poin yang diusulkan AS diluncurkan dua minggu lalu dan sempat dibahas oleh perwakilan AS, Ukraina, dan beberapa negara Eropa di Jenewa pada 23 November, serta melalui pembicaraan antara Menlu AS Marco Rubio dan Witkoff dengan delegasi Ukraina di Florida.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: