Makna Hari Gunung Internasional 11 Desember: Ancaman Nyata dari Krisis Iklim

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 11 Desember 2025 | 00:49 WIB
Gunung Semeru erupsi (Foto/Pixabay)
Gunung Semeru erupsi (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com - Gunung bukan hanya lanskap megah yang memanjakan mata, tetapi juga penopang utama kehidupan manusia.

Dari lereng-lerengnya mengalir sumber air bersih, pangan tumbuh, hingga energi dihasilkan. Karena peran vital inilah, dunia setiap tahun memperingati Hari Gunung Internasional setiap tanggal 11 Desember.

Pada Kamis, 11 Desember 2025, peringatan ini kembali menjadi pengingat penting bahwa kelestarian pegunungan berada di titik yang semakin mengkhawatirkan.

Di Indonesia, isu pegunungan kian relevan. Ancaman mencairnya salju abadi di Puncak Jaya Papua akibat krisis iklim, serta meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Merapi dan Marapi, menjadi bukti nyata bahwa ekosistem gunung sedang menghadapi tekanan serius. Hari Gunung Internasional bukan lagi sekadar seremonial, melainkan momentum refleksi bersama.

Sejarah Hari Gunung Internasional

Lahirnya Hari Gunung Internasional berawal dari kesadaran global akan rapuhnya ekosistem pegunungan. Titik balik penting terjadi pada Konferensi Lingkungan dan Pembangunan PBB (UNCED) di Rio de Janeiro tahun 1992.

Dalam pertemuan tersebut, PBB melahirkan dokumen Agenda 21, dan pada Bab 13 secara khusus dibahas mengenai pengelolaan ekosistem pegunungan secara berkelanjutan.

Sepuluh tahun kemudian, PBB menetapkan tahun 2002 sebagai Tahun Pegunungan Internasional. Program ini sukses meningkatkan perhatian dunia terhadap isu pegunungan mulai dari konservasi, kesejahteraan masyarakat adat, hingga pengelolaan sumber daya alam.

Melihat dampak positif tersebut, Majelis Umum PBB akhirnya menetapkan 11 Desember sebagai Hari Gunung Internasional, yang pertama kali diperingati pada 2003. Sejak itu, peringatan ini rutin dilakukan setiap tahun dengan tema yang berbeda-beda.

Dalam pelaksanaannya, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) ditunjuk sebagai koordinator utama dan bekerja sama dengan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, hingga komunitas lokal.

Makna Hari Gunung Internasional bagi Kehidupan

Hari Gunung Internasional membawa pesan kuat bahwa pegunungan bukan sekadar objek wisata, melainkan jantung kehidupan bagi miliaran manusia di dunia. Berikut beberapa makna pentingnya:

1. Sumber Kehidupan

Lebih dari separuh populasi dunia bergantung pada air yang bersumber dari pegunungan. Sungai besar, sistem irigasi, hingga cadangan air tanah berasal dari kawasan dataran tinggi.

2. Penyangga Iklim Global

Hutan pegunungan berperan sebagai penyerap karbon alami. Kerusakannya dapat mempercepat pemanasan global serta memicu bencana seperti banjir, longsor, dan kekeringan.

3. Rumah Keanekaragaman Hayati

Pegunungan merupakan habitat ribuan spesies flora dan fauna, banyak di antaranya bersifat endemik.

4. Ruang Hidup dan Budaya

Bagi masyarakat adat, gunung memiliki makna sakral dan menjadi pusat nilai budaya. Kerusakan pegunungan dapat mengancam identitas mereka.

Cara Memperingati Hari Gunung Internasional yang Bermakna

Peringatan Hari Gunung Internasional tidak harus dilakukan dengan mendaki. Ada banyak cara untuk berkontribusi:

1. Edukasi dan Literasi Digital

Sebarkan informasi tentang pentingnya menjaga ekosistem gunung melalui media sosial dengan tagar #HariGunungInternasional atau #MountainsMatter.

2. Aksi Lingkungan Nyata

Ikut kegiatan bersih gunung, penanaman pohon, atau pembersihan sungai. Contohnya, aksi bersih Sungai Code yang berhulu di Merapi.

3. Wisata Alam yang Bertanggung Jawab

Terapkan prinsip Zero Waste Adventure, patuhi aturan konservasi, dan selalu cek status gunung sebelum mendaki.

4. Mendukung Produk Lokal Pegunungan

Beli kopi, teh, rempah, atau kerajinan hasil masyarakat pegunungan sebagai bentuk dukungan ekonomi berkelanjutan.

5. Mengikuti Diskusi dan Webinar Lingkungan

Berbagai organisasi sering mengadakan seminar dan webinar terkait isu pegunungan sepanjang Desember.

Hari Gunung Internasional 2025 hadir di tengah tantangan besar: perubahan iklim, deforestasi, aktivitas vulkanik, hingga tekanan pariwisata yang tidak terkendali. Gunung bukan hanya milik para pendaki, tetapi milik seluruh umat manusia.

Menjaga gunung berarti menjaga sumber air, pangan, udara, dan warisan budaya. Peringatan ini menjadi ajakan bersama untuk lebih bijak memanfaatkan alam dan lebih serius melindungi ekosistem pegunungan demi generasi mendatang.

(Rep/Nissa)sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: