Konflik Thailand Kamboja, Indonesia Diminta Netral dan Tidak Terjebak
BeritaNasional.com - Pemerintah diingatkan untuk bersikap tidak memihak atau netral serta menjunjung prinsip yang tertuang pada ASEAN Charter dalam menengahi konflik Thailand Kamboja.
Pernyataan ini disampaikan akademisi Hubungan Internasional (HI) Universitas Padjadjaran (Unpad) Teuku Rezasyah dalam merespon peran Indonesia atas konflik kedua negara tersebut.
“Hendaknya netral karena Indonesia harus mengedepankan prinsip ASEAN Charter, yang pada intinya mengedepankan penyelesaian krisis secara damai dan berbasis musyawarah mufakat,” ujarnya Antara di Jakarta.
Ia menjelaskan ASEAN Charter merupakan piagam resmi yang disahkan pada 2007 yang menjadi dasar hukum dan kerangka kerja Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara. Di antara prinsip penyelesaian konflik yang telah disepakati bersama dalam piagam itu adalah penyelesaian secara damai, tidak menggunakan kekuatan, serta mengutamakan dialog dan diplomasi.
Terkait permintaan seorang wanita Kamboja yang meminta Indonesia membantu menghentikan konflik, menurutnya Indonesia tidak boleh terjebak oleh permintaan bantuan apapun dan sekecil apapun dari salah satu pihak.
Dia kemballi mengingatkan Indonesia haram membantu secara militer. Hal itu lantaran pasukan khusus tentara Kamboja telah mendapat latihan dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Indonesia selama belasan tahun.
“Pasukan khusus Tentara Kamboja sudah belasan tahun dilatih Kopassus RI. Juga pasukan ini berseragam dan menggunakan aba-aba seperti Kopassus. Sehingga kehadiran TNI dapat disalah-artikan oleh berbagai kalangan di dunia,” ucapnya.
Guna memecah kebuntuan konflik antara dua negara bertetangga tersebut, Reza menyarankan agar Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibraham yang juga merangkap sebagai Ketua ASEAN 2025 untuk menggelar audiensi dengan Raja Thailand Maha Vajiralongkorn dan Raja Kamboja Norodom Sihamoni.
“Intinya, memohon kebesaran hati kedua raja tersebut, untuk secara konstitusional dan kearifan mereka, membantu proses perdamaian diantara kedua pemerintah yang sedang bertikai,” ucapnya.
Thailand dan Kamboja terlibat dalam sengketa perbatasan yang telah berlangsung lama dan berulang kali memicu kekerasan, termasuk bentrokan pada Juli lalu yang menewaskan sedikitnya 48 orang. (Antara)

GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu







