281 Guru dan Staf Sekolah Negeri Jepang Disanksi Akibat Kasus Kekerasan Seksual

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 23 Desember 2025 | 12:30 WIB
Ilustrasi pelecehan, pemerkosaan, kekerasan, penculikan. (Foto/Freepik)
Ilustrasi pelecehan, pemerkosaan, kekerasan, penculikan. (Foto/Freepik)

BeritaNasional.com - Dunia pendidikan di Jepang tengah diguncang isu serius. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi (MEXT) Jepang melaporkan 281 guru serta staf sekolah negeri dijatuhi sanksi disiplin akibat terlibat dalam kasus kekerasan maupun kejahatan seksual sepanjang tahun fiskal 2024.

Berdasarkan data yang dirilis pada Senin (22/12/2025), laporan ini mencakup rentang waktu aktivitas dari April 2024 hingga Maret 2025. Kasus ini melibatkan tenaga pendidik dari berbagai jenjang, mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA) negeri di seluruh penjuru Jepang.

Ratusan Tenaga Pendidik Dipecat

Dari total 281 kasus yang terdata, kementerian mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku. Sebanyak 167 orang resmi diberhentikan secara tidak hormat dari jabatannya.

Sementara itu, 51 orang lainnya dijatuhi sanksi skorsing, dan 25 orang mengalami pemotongan gaji.

Keadaan semakin memprihatinkan karena dalam 134 kasus, korbannya adalah anak-anak atau pelajar yang merupakan murid mereka sendiri.

Menanggapi fakta tersebut, pemerintah bertindak tanpa ampun: 132 orang dari kelompok ini langsung dipecat, sementara dua lainnya diskors.

Modus Kejahatan dan Langkah Antisipasi

Laporan dari Kyodo News menyebutkan bahwa jenis pelanggaran yang dilakukan sangat beragam, mulai dari tindakan tidak senonoh secara langsung hingga kejahatan berbasis teknologi. Beberapa kasus yang menonjol meliputi:

  • Perekaman video secara diam-diam (hidden camera).
  • Perilaku voyeurisme (mengintip).
  • Tindakan asusila lainnya terhadap siswa.

Merespons fenomena ini, Kementerian Pendidikan Jepang telah mengeluarkan instruksi tegas kepada 67 dewan pendidikan di seluruh prefektur dan kota-kota besar di Jepang. Mereka diminta untuk memperketat sistem pengawasan dan memperkuat langkah-langkah pencegahan guna memastikan lingkungan sekolah kembali aman bagi siswa.

Langkah ini diambil untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan Jepang yang selama ini dikenal memiliki kedisiplinan tinggi, namun kini harus menghadapi tantangan besar terkait integritas para tenaga pengajarnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: