Kaleidoskop 2025: Jalan Terjal Menanti Akhir Perang Rusia-Ukraina

Oleh: Tarmizi Hamdi
Selasa, 30 Desember 2025 | 21:30 WIB
Presiden AS Donald Trump bersama Presiden Ukraina Zelensky dan pemimpin negara Eropa di Gedung Putih. (Foto/Instagram realdonaldtrump)
Presiden AS Donald Trump bersama Presiden Ukraina Zelensky dan pemimpin negara Eropa di Gedung Putih. (Foto/Instagram realdonaldtrump)

BeritaNasional.com - Tahun 2025 menjadi babak paling krusial dalam sejarah konflik panjang Rusia dan Ukraina. 

Di bawah bayang-bayang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai penyambung keduanya, dunia menyaksikan pergeseran dramatis dari konfrontasi fisik menuju meja perundingan yang penuh dengan tekanan politik dan kejutan diplomatik.

Perjalanan tahun ini dimulai dengan sinyal pembuka dari Moskow pada pertengahan Juni. Dalam pertemuan dengan kantor berita global di St. Petersburg, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapannya untuk berdialog langsung setelah 22 Juni 2025. 

Namun, ia menekankan pentingnya legitimasi hukum dalam setiap dokumen kesepakatan.

"Pertanyaan sebenarnya adalah: siapa yang akan menandatangani dokumen yang dihasilkan? Kita tidak sedang berurusan dengan propaganda; jika menyangkut masalah serius, yang penting bukanlah pesan politik, tetapi legitimasi hukum," tegas Putin.

Ia juga mengingatkan bahwa jika negosiasi gagal, Rusia akan mencapai tujuannya melalui jalur militer.

Memasuki bulan Juli, dinamika memanas saat Donald Trump mengambil peran dominan sebagai mediator sekaligus pemasok senjata. Trump mengumumkan pengiriman sistem Patriot, namun dengan pendekatan bisnis yang kaku. 

"Mereka akan membayar kami 100 persen untuk itu, dan itulah yang kami inginkan," ujar Trump pada 14 Juli 2025. 

Namun, hanya berselang sehari, Trump menyatakan kekecewaannya terhadap Putin karena buntunya pembicaraan gencatan senjata. 

"Saya hampir tidak memercayai siapa pun. Saya kecewa padanya (Putin), tapi saya belum selesai dengannya," ungkap Trump pada 15 Juli 2025.

Agustus menjadi bulan "Diplomasi Alaska" yang bersejarah. Di tengah ketegangan, utusan khusus AS Steve Witkoff bertemu Putin di Moskow pada 6 Agustus. 

Di sisi lain, Presiden Zelensky merespons rencana pertemuan AS-Rusia tersebut dengan ketegasan melalui Telegram pada 9 Agustus. 

"Jawaban terkait isu teritori Ukraina sudah dijawab di Konstitusi Ukraina. Tidak akan ada yang melenceng dari hal ini. Ukraina tidak akan menyerahkan tanahnya kepada para penjajah," ungkap Zelensky.

Meski demikian, pertemuan puncak Trump dan Putin di Anchorage tetap terlaksana pada 15 Agustus. 

Dalam konferensi pers singkat, Putin menyebut konflik tersebut sebagai duka bersama. 

"Segala sesuatu yang terjadi adalah tragedi bagi kita dan luka yang mengerikan," tutur Putin.

Memasuki akhir tahun, tekanan diplomatik semakin memuncak. Pada awal Desember, para pemimpin Eropa menyatakan penolakan keras terhadap rencana damai yang diputuskan tanpa suara mereka.

Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan pada 1 Desember bahwa tidak ada keputusan damai Ukraina-Rusia tanpa peran Uni Eropa.

"Tidak ada keputusan tentang Ukraina dan Eropa tanpa warga Ukraina dan tanpa warga Eropa," ungkapnya. 

Namun, Trump terus memacu negosiasi dan mendesak Zelensky untuk segera mengambil keputusan. 

"Dia (Zelensky) harus segera bertindak dan mulai menerima berbagai hal. Karena dia sedang kalah," kata Trump pada 8 Desember.

Puncaknya terjadi pada 28 Desember 2025, saat Trump menjamu Zelensky di Mar-a-Lago, Florida. Zelensky menekankan pentingnya strategi teknis.

 "Sangat penting bagi tim kami untuk membicarakan strategi bagaimana melangkah selangkah demi selangkah, dan untuk mendekatkan perdamaian," kata Zelensky.

Sehari setelahnya, Trump segera menghubungi Putin guna melaporkan hasil pembicaraan tersebut. 

"Presiden Trump telah menyelesaikan percakapan telepon yang positif dengan Presiden Putin mengenai Ukraina," kata Sekretaris Pers Karoline Leavitt, Gedung Putih.

Trump menutup tahun dengan sebuah optimisme tanpa beban tenggat waktu yang kaku. 

"Saya tidak punya tenggat waktu. Tahukah Anda apa tenggat waktu saya? Mengakhiri perang," tegas Trump. 

Kini, dunia menanti apakah narasi panjang di tahun 2025 ini akan benar-benar berujung pada penghentian senjata secara permanen di awal 2026.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: