Sejarah dan Makna Perayaan Tahun Baru Mahayana

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 07 Januari 2026 | 04:31 WIB
Ilustrasi Perayaan Tahun Baru Mahayana. (Foto/freepik)
Ilustrasi Perayaan Tahun Baru Mahayana. (Foto/freepik)

BeritaNasional.com - Tanggal 7 Januari diperingati sebagai Tahun Baru Mahayana oleh umat Buddha di berbagai negara. Perayaan ini menjadi momen penting untuk memperbarui batin sekaligus meneguhkan keyakinan bahwa pencerahan atau nirvana sejati dapat diraih selama seseorang masih menjalani kehidupan.

Sejarah Tahun Baru Mahayana

Mahayana merupakan salah satu aliran utama dalam ajaran Buddha yang berakar pada nilai-nilai filosofi dan spiritual. Ajaran ini berkembang luas di sejumlah wilayah Asia Timur dan Asia Timur Laut, seperti Tiongkok, Jepang, Korea, Tibet, Taiwan, hingga Mongolia. Meski memiliki dasar ajaran yang sama, praktik Buddhisme Mahayana dijalankan dengan tradisi yang berbeda-beda di setiap daerah.

Dalam ajaran Mahayana, istilah tersebut dimaknai sebagai *Kendaraan Agung*, yang menggambarkan jalan luas menuju pencerahan bagi semua makhluk. Umat Buddha Mahayana meyakini bahwa nirvana tidak hanya menjadi tujuan para biksu, tetapi juga dapat dicapai oleh umat awam yang menjalani kehidupan dengan kesadaran, kebijaksanaan, dan welas asih.

Penentuan tanggal Tahun Baru Mahayana tidak selalu sama di setiap negara. Sebagian umat merayakannya bersamaan dengan pergantian tahun Masehi, sementara yang lain menunggu datangnya bulan purnama di bulan Januari sesuai tradisi masing-masing.

Rangkaian perayaan biasanya diisi dengan doa, meditasi, dan penghormatan kepada Buddha serta Bodhisattva. Patung-patung suci dimandikan sebagai lambang penyucian diri, vihara dikunjungi untuk bersembahyang, dan nyanyian rohani dilantunkan sebagai bentuk pengabdian. Lilin yang dinyalakan melambangkan harapan akan kebahagiaan dan keberuntungan di tahun yang baru.

Secara historis, ajaran Buddha bermula dari kelahiran Siddharta Gautama sekitar tahun 563 sebelum Masehi di Lumbini, Nepal. Setelah meninggalkan kehidupan istana, ia mencapai pencerahan di Bodh Gaya pada sekitar tahun 528 SM dan dikenal sebagai Buddha, Sang Tercerahkan. Pada tahun 483 SM, Buddha mencapai parinirvana, yaitu kondisi terbebas sepenuhnya dari siklus kelahiran kembali. Ajaran beliau kemudian menyebar luas ke berbagai wilayah Asia, terutama pada masa pemerintahan Raja Ashoka pada abad ke-3 sebelum Masehi.

Makan Tahun Baru Mahayana

Tahun Baru Mahayana juga dimaknai sebagai waktu untuk introspeksi. Umat diajak menelaah kembali kesalahan di masa lalu, memperbaiki sikap, dan bertekad menjalani hidup yang lebih baik. Tradisi membersihkan serta menghias rumah, berbagi hadiah, hingga merayakan bersama keluarga dan komunitas menjadi simbol awal baru yang penuh makna. 

(Rep/shafira)sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: