Babak Baru Perang Rusia-Ukraina: Inggris & Prancis Siap Kirim Pasukan jika Gencatan Senjata Tercapai

Oleh: Tarmizi Hamdi
Rabu, 07 Januari 2026 | 14:00 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan) bertemu dengan Presiden Ukraina Zelensky. (Foto/Instagram)
Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan) bertemu dengan Presiden Ukraina Zelensky. (Foto/Instagram)

BeritaNasional.com - Langkah besar menuju perdamaian di Ukraina mulai terlihat. Perdana Menteri (PM) Inggris Sir Keir Starmer dan Presiden Prancis Emmanuel Macron resmi menandatangani deklarasi untuk mengerahkan pasukan ke wilayah Ukraina. Operasi militer ini akan dilakukan apabila kesepakatan damai dengan Rusia berhasil disepakati.

Dalam pertemuan Koalisi Sukarelawan di Paris pada Selasa (6/1/2026) waktu setempat, para pemimpin Eropa bersama utusan Amerika Serikat merancang kerangka kerja untuk mengakhiri invasi Rusia yang telah berlangsung sejak Februari 2022.

Sir Keir Starmer menegaskan pengerahan pasukan ini bukan untuk berperang secara langsung saat ini, melainkan sebagai jaminan keamanan permanen. 

Inggris dan Prancis berencana membangun pusat-pusat militer di seluruh penjuru Ukraina untuk mencegah agresi Rusia di masa depan.

"Ini adalah bagian penting dari komitmen kami untuk berdiri bersama Ukraina dalam jangka panjang," ujar Starmer yang dikutip dari BBC News pada Rabu (7/1/2026). 

Ia menambahkan kesepakatan ini membuka jalan bagi pasukan sekutu untuk mengamankan wilayah udara dan laut Ukraina. Selain itu, membangun kembali angkatan bersenjata Ukraina agar lebih modern dan tangguh serta memantau pelaksanaan gencatan senjata di bawah koordinasi Amerika Serikat.

Presiden Macron menyebutkan kemungkinan pengerahan ribuan personel militer sebagai bagian dari janji keamanan bagi Kyiv.

Negosiasi ini juga melibatkan tokoh-tokoh kunci dari pemerintahan Donald Trump. Steve Witkoff, negosiator utama AS, dan Jared Kushner, menantu sekaligus utusan khusus Trump, menekankan pentingnya jaminan nyata agar perang tidak terulang.

Meskipun detail mengenai garis perbatasan masih menjadi perdebatan sengit, pihak AS menyatakan protokol keamanan bagi rakyat Ukraina sudah hampir tuntas. Hal ini diharapkan memberi kepastian bagi Presiden Zelensky bahwa gencatan senjata bukan sekadar jeda perang sementara.

Respons Moskow dan Dilema Zelensky

Meski ada kemajuan diplomatik yang signifikan, tantangan besar masih membentang.

Ancaman Rusia

Moskow sebelumnya telah memperingatkan bahwa kehadiran pasukan asing di Ukraina akan dianggap sebagai "target sah". Hingga saat ini, Kremlin masih bungkam terkait pengumuman di Paris tersebut.

Isu Wilayah

Rusia saat ini menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina, termasuk hampir seluruh kawasan industri Donbas. Vladimir Putin bersikeras agar pasukan Ukraina mundur sepenuhnya dari wilayah tersebut.

Tekanan Musim Dingin

Presiden Zelensky menyadari bahwa menolak gencatan senjata berarti menghadapi musim dingin yang melelahkan dengan risiko kehilangan nyawa yang lebih besar. Namun, menyerahkan wilayah tetap menjadi hal yang sulit diterima oleh publik Ukraina.

Zelensky menyebut hasil pertemuan Paris sebagai "langkah maju yang besar", namun ia menekankan bahwa kesuksesan sejati hanya akan tercapai jika perang benar-benar berakhir secara total.

"Kesepakatan perdamaian sudah 90 persen siap," ungkap Zelensky pekan lalu.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: