Pemerintah Bakal Pasang Verifikasi Kamera untuk Roblox, Cegah Paham Ekstremisme
BeritaNasional.com - Pemerintah tengah mempersiapkan beberapa langkah antisipasi penyebaran paham ekstremisme yang menyasar anak-anak. Salah satunya memperketat pengawasan terhadap game online yang kerap dijadikan wadah penyebaran paham tersebut.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono mengatakan, upaya bersama Kementerian Komunikasi Dan Informatika (Komdigi) lewat PP Nomor 17 tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (Tunas).
“Mungkin tinggal menunggu peraturan menterinya, mungkin nanti bulan Maret ya Pak, ini akan dilakukan pengontrolan terhadap platform, baik itu media online maupun game online,” kata Eddy saat jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Salah satunya, lanjut Eddy, pengawasan terhadap aktivitas permainan game online Roblox. Hal ini menyusul beberapa kasus dari game tersebut yang memuat konten berbahaya bagi anak-anak.
“Ini bisa memberikan pembatasan terhadap anak-anak yang akan mengakses. Sehingga dengan melakukan verifikasi, contoh tadi seperti Roblox ya, Roblox ini juga akan mungkin dipasangi kamera,” kata dia.
Eddy menjelaskan, pemasangan kamera dalam verifikasi dilakukan guna memperketat pendaftaran setiap pemain. Sehingga, untuk akun yang digunakan anak di bawah umur nantinya secara otomatis akan ditolak.
“Sehingga nanti setiap anak yang akan melakukan membuat akun di dalam Roblox itu, pasti akan tercapture wajahnya. Nanti secara otomatis kalau memang dia di bawah umur, langsung dia nggak bisa membuat akun itu, itu secara sistem ya,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana mengatakan kerawanan game Roblox. Karena, fitur self-generate yang dipakai komunitas untuk merancang sesuai keinginannya.
“Kalau mereka yang hobi kekerasan tentunya disesuaikan dengan kondisinya. Dan kami membenarkan bahwa ada fenomena algorithmic radicalism atau algorithmic exposing extremism, yaitu proses paham kekerasan atau proses radikalisme yang terjadi,” kata dia.
“Karena seringnya anak mengakses, tadi disebutkan Pak Kepala, ada screen time yang berlebihan sehingga setiap media sosialnya membentuk sebuah sistem algoritma. Anak-anak ini setiap buka platform media sosialnya disuguhkan dengan konten-konten kekerasan,” tambah dia.
Oleh sebab itu, Mayndra mengatakan pihaknya akan melakukan identifikasi terhadap anak-anak yang terpapar ekstremisme akibat dampak dari permainan game online, seperti Roblox.
“Kami coba berikan edukasi dan literasi digital kepada kalau lingkup kami ya, itu namanya Mikroekologi Anak, artinya lingkungan terdekat anak. Baik dari keluarganya, kemudian orangtuanya, saudaranya, lingkungan dia tinggal, yang terakhir lingkungan sekolah,” ujarnya.
Sementara dari hasil pendalaman Densus 88 Anti-teror Polri telah menangani sebanyak 70 anak yang terpapar ekstrimisme. Mereka turut terpencar di 27 grup media sosial yang aktif menyebarkan konten kekerasan.

GAYA HIDUP | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
PERISTIWA | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu





