Profil Noe Letto, Musisi yang Kini Jadi Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional
BeritaNasional.com - Nama Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang selama ini lebih dikenal publik sebagai Noe Letto, kembali menjadi perbincangan. Sosok yang identik dengan dunia musik dan pemikiran kebudayaan itu kini melangkah ke ranah strategis negara setelah resmi diangkat sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN).
Noe Letto dilantik bersama 11 tenaga ahli lainnya dalam sebuah upacara yang berlangsung di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Gedung Jenderal Sudirman, Kementerian Pertahanan (Kemhan), Jakarta Pusat, Kamis (15/1/2026). Prosesi pelantikan dipimpin langsung oleh Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, yang juga menjabat sebagai Ketua Harian DPN.
Pengangkatan Noe Letto menjadi Tenaga Ahli DPN cukup mengejutkan publik. Selama ini, ia dikenal luas sebagai mantan vokalis band Letto sekaligus putra budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Namun, di balik citra seniman tersebut, Noe memiliki latar belakang akademik dan pemikiran strategis yang jarang tersorot.
Profil Noe Letto: Latar Keluarga dan Masa Kecil
Noe Letto lahir di Yogyakarta, 10 Juni 1979, dengan nama lengkap Sabrang Mowo Damar Panuluh. Ia merupakan putra Cak Nun dari pernikahan pertama dengan Neneng Suryaningsih. Setelah orang tuanya berpisah, Noe kecil sempat tinggal bersama sang ibu di Metro, Lampung.
Pengalaman hidup berpindah kota sejak kecil membentuk cara pandangnya yang terbuka dan reflektif, sesuatu yang kerap tercermin dalam karya-karya musik dan pemikirannya.
Riwayat Pendidikan: Lulusan Ganda dari Kanada
Noe mengawali pendidikan formalnya di SMP Xaverius Lampung, sebelum melanjutkan ke SMAN 7 Yogyakarta. Di sekolah ini, ia bertemu Patub, Aldi, dan Ari, yang kelak menjadi rekan satu band di Letto.
Pada 1997, Noe memutuskan melanjutkan pendidikan tinggi ke University of Alberta, Kanada. Di sana, ia mengambil dua jurusan sekaligus, Fisika dan Matematika, dan menyelesaikannya sebagai lulusan double degree. Latar akademik ini menjadi fondasi kuat dalam cara berpikir analitis yang ia miliki hingga kini.
Karier Musik Bersama Letto
Sepulang dari Kanada, Noe kembali ke Yogyakarta dan aktif bermusik. Ia kerap menghabiskan waktu di studio Kiai Kanjeng, kelompok musik pimpinan Novi Budianto yang juga dikenal sebagai mitra seni Cak Nun.
Di lingkungan tersebut, Noe mendalami proses produksi musik, mulai dari penulisan lagu, mixing, mastering, hingga konsep album. Karya-karyanya kemudian banyak mewarnai album debut Letto, Truth, Cry, and Lie, yang dirilis pada 2006 dan meraih kesuksesan besar hingga double platinum. Kesuksesan itu berlanjut lewat album Don’t Make Me Sad (2007).
Aktif di Dunia Film dan Produksi Kreatif
Tak hanya musik, Noe Letto juga menekuni dunia film. Pada 10 Juni 2008, ia mendirikan Pic[k]Lock Productions bersama Dewi Umaya Rachman. Rumah produksi ini dikenal fokus mengangkat cerita berlatar sosial, budaya, dan politik.
Sejumlah film yang pernah diproduserinya antara lain Minggu Pagi di Victoria Park (2010), RAYYA, Cahaya Di Atas Cahaya, serta Guru Bangsa Tjokroaminoto karya sutradara Garin Nugroho.
Warna Baru di Dewan Pertahanan Nasional
Penunjukan Noe Letto sebagai Tenaga Ahli DPN mencerminkan semakin terbukanya ruang kebijakan pertahanan terhadap pendekatan multidisipliner. Dengan latar akademik sains, pengalaman seni, serta pemikiran kebudayaan, Noe diharapkan mampu memberi perspektif segar dalam membaca dinamika dan tantangan pertahanan nasional ke depan.
(Rep/Nissa)

PERISTIWA | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu







