Contoh Khutbah Jumat Bertema Bulan Syaban
BeritaNasional.com - Sejak Selasa (20/1/2026), umat Islam sudah memasuki bulan Syaban 1447 Hijriah. Kehadiran bulan Syaban menjadi pengingat bahwa Ramadhan kian dekat. Meski sering luput dari perhatian, Syaban justru menyimpan keistimewaan besar yang sayang untuk dilewatkan. Bulan Syaban adalah waktu untuk persiapan, tempat menata hati, membiasakan ibadah, sekaligus melunasi kewajiban sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Karenanya, tema mengenai bulan Syaban sangat relevan dibawakan dalam khutbah Jumat (30/1/2026) siang ini, untuk memperkaya ilmu dan pengetahuan seputar Syaban dan berbagai amalan ibadan serta keuatamaannya. Berikut adalah contoh khutbah Jumat bertema bulan Syaban yang dilansir dari laman NU Online.
1. Bersemangat di Bulan Syaban ala Rasulullah
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Segala puji bagi Allah SWT. Atas kasih sayang-Nya yang tiada terhingga, Dia senantiasa menyertai perjalanan hidup kita. Dengan pertolongan-Nya, berbagai urusan dimudahkan, rizki tercukupi, dan hati dikuatkan dalam menghadapi berbagai keadaan. Oleh karena itu, pada hari Jumat yang penuh keberkahan ini, kita kembali dipertemukan dalam majelis ibadah untuk menata hati menuju kebaikan.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW., suri teladan terbaik bagi seluruh umat manusia. Melalui ajaran dan keteladanan beliau, kita diajak menjalani hidup dengan sungguh-sungguh, menjaga akhlak dalam pergaulan, dan menempatkan ibadah sebagai penopang utama kehidupan. Semoga rahmat yang sama juga tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat, pengikut setia, serta setiap orang yang berusaha menapaki jalan yang beliau wariskan.
Selanjutnya, marilah kita memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT. dengan kesadaran yang lahir dari hati. Takwa merupakan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat. Karena itu, hendaklah kita senantiasa menjaga diri agar mati dalam keadaan bertakwa dan tetap berpegang pada agama Islam. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Ali‘Imran ayat 102:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Salah satu sifat mulia Rasulullah SAW yang patut kita teladani adalah semangat Nabi dalam menjalani bulan Syaban. Padahal, jika direnungkan, Syaban bisa terasa berat dan melelahkan, karena di bulan inilah berbagai persiapan untuk menyambut Ramadhan mulai dilakukan, terutama persiapan ekonomi untuk kebutuhan selama sebulan penuh.
Selain itu, Syaban berada di antara dua bulan istimewa, sehingga menimbulkan dilema tersendiri. Di satu sisi, ia hadir setelah Rajab, yang sering diperlakukan sebagai bulan penuh keberkahan. Di sisi lain, ia datang tepat sebelum Ramadhan, bulan yang selalu dinanti dengan gegap gempita pahala dan ibadah.
Namun, Rasulullah SAW tidak pernah bersikap pesimis atau kehilangan semangat, kapan pun waktunya. Saat sebagian dari kita mungkin mulai lalai atau bersantai-santai di bulan Syaban, Nabi Muhammad justru meningkatkan ibadahnya, terutama dengan memperbanyak puasa, sebagai bentuk kesiapan spiritual menyambut Ramadhan. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan oleh Imam Nasa’i bersumber dari Usamah bin Zaid, Nabi bersabda:
حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.
Artinya: “Usamah bin Zaid bercerita: Aku berkata kepada Rasulullah Saw, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam bulan-bulan lain, sebanyak engkau berpuasa di bulan Syaban.’ Rasulullah Saw menjawab, ‘(Pada bulan Syaban) banyak orang yang lalai. Sebab bulan tersebut berada di antara bulan Rajab dan Syaban. Padahal, bulan Syaban itu adalah waktu pengangkatan amal ibadah ke hadapan Tuhan. Maka aku senang, ketika amalku terangkat, sedangkan aku berpuasa.” (HR. An-Nasa’i)
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Dalam hadits ini, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tak sedikit kaum Muslimin yang lalai di bulan Syaban. Hal ini terjadi karena Syaban terletak di antara dua bulan istimewa, yaitu Rajab dan Ramadhan. Pada bulan Rajab, banyak kaum Muslimin menganggap puasa memiliki keistimewaan tersendiri, karena Rajab termasuk bulan Haram yang dihormati. Selain itu, pada bulan ini juga terdapat peringatan peristiwa Isra dan Miraj, yang menambah keistimewaannya.
Sementara itu, di bulan Ramadhan, kaum Muslimin memperoleh banyak keutamaan dan ganjaran pahala ibadah yang berlipat. Posisi Syaban di antara kedua bulan istimewa inilah yang kadang membuat sebagian orang lalai, sehingga tidak memanfaatkan sepenuhnya kesempatan ibadah di bulan Syaban.
Al-Qasthalani dalam kitab Al-Mawahib al-Ladunniyyah, jilid III, halaman 438, menjelaskan bahwa Rasulullah Saw memberikan alasan mengapa beliau sering berpuasa sunnah di bulan Syaban, bukan di bulan-bulan lainnya. Nabi bersabda: “Sesungguhnya Syaban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, berada di antara Rajab dan Ramadhan.”
“Rasulullah SAW menjelaskan alasan beliau sering berpuasa (sunnah) di bulan Syaban, bukan di bulan-bulan lainnya, dengan sabdanya: ‘Sesungguhnya Syaban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, berada di antara Rajab dan Ramadhan.’ Hal ini menunjukkan bahwa karena Syaban diapit oleh dua bulan yang agung, bulan haram (Rajab) dan bulan puasa (Ramadhan), manusia sibuk dengan keduanya, sehingga Syaban pun menjadi terabaikan. Bahkan, banyak orang menyangka bahwa puasa di bulan Rajab lebih utama daripada puasa di bulan Syaban karena Rajab adalah bulan haram, padahal anggapan itu tidaklah benar.
Menghidupkan waktu yang sering dilalaikan dengan ketaatan memiliki banyak keutamaan. Di antaranya, amal tersebut lebih tersembunyi, dan menyembunyikan amalan-amalan sunnah serta melakukannya secara diam-diam lebih utama, terlebih lagi puasa, karena ia merupakan ibadah yang menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Kemudian, beribadah di waktu yang dilalaikan juga lebih berat bagi jiwa.”
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Selain untuk memberikan motivasi kepada kaum Muslimin agar tetap semangat dalam beribadah di bulan Syaban yang diapit oleh dua bulan istimewa, Rasulullah Saw juga bersemangat karena di bulan Syaban seluruh amal ibadah umat manusia selama setahun dilaporkan ke hadapan Allah SWT.
Oleh karena itu, mari di bulan Syaban ini kita tidak lalai. Sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Saw, perbanyaklah puasa dan lakukan setiap ibadah dengan penuh semangat. Sebab di bulan Syaban ini, amal kita selama setahun akan dicatat dan dilaporkan langsung ke hadapan Allah SWT., sehingga menjadi kesempatan besar untuk memperbanyak kebaikan dan menyiapkan diri menyambut Ramadhan.
2. Memperbanyak Istighfar di Bulan Syaban sebagai Penyucian Hati
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah Jumat ini, marilah kita senantiasa mengingat akan segala anugerah yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada kita. Untuk kemudian kita syukuri dan gunakan di jalan kebaikan serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah.
Pada kesempatan ini, khatib mengajak kepada seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah ta'ala dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beribadah kepada Allah akan menjadi manifestasi ketakwaan kita. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya, "Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Al Baqarah ayat 21)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Bulan Syaban memiliki kedudukan istimewa karena berada di antara dua bulan mulia, Rajab dan Ramadhan, yang penuh ibadah dan keberkahan. Rasulullah SAW. bersabda:
فَذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ، بَيْنَ شَهْرِ رَجَبٍ وَشَهْرِ رَمَضَانَ، تُرْفَعُ فِيهِ أَعْمَالُ النَّاسِ، فَأُحِبُّ أَنْ لَا يُرْفَعَ عَمَلِي إِلَّا وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: “Itu (Syaban) bulan yang dilalaikan manusia antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhan. Aku ingin amalku tidak diangkat kecuali aku sedang berpuasa,” (HR Nasa’i dan Ahmad).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Namun, sebagaimana disampaikan Rasulullah saw., bulan Syaban sering kali terabaikan, meskipun berada di antara Rajab dan Ramadhan. Rajab mudah diingat karena termasuk salah satu dari empat bulan mulia (asyhurul Hurum) dan di dalamnya terjadi peristiwa Isra Miraj, yang menandai perintah salat lima waktu. Sementara itu, Ramadhan jelas sangat dikenal sebagai bulan diwajibkannya puasa.
Ia dipenuhi rahmat, ampunan, dan keberkahan, serta memiliki keutamaan besar berupa lailatul qadar. Tak heran jika banyak orang begitu bersemangat meningkatkan ibadah di bulan Syaban ini. Di dalam Al-Qur'an, Allah Ta'ala berfirman:
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
Artinya, "Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa," (QS Ali 'Imran ayat 133)
Dalam ayat yang lain, Allah juga memerintahkan agar kita senantiasa memohon ampunan kepada Allah, bila kita ingin mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Memohon ampunan kepada Allah SWT ini menjadi sebuah pengakuan yang tegas, bahwa diri kita hanyalah makhluk lemah yang banyak melakukan kesalahan dan dosa.
وَّاَنِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَّتَاعًا حَسَنًا اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى وَّيُؤْتِ كُلَّ ذِيْ فَضْلٍ فَضْلَهٗۗ وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيْرٍ
Artinya, "Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kesenangan yang baik kepadamu (di dunia) sampai waktu yang telah ditentukan (kematian) dan memberikan pahala-Nya (di akhirat) kepada setiap orang yang beramal saleh. Jika kamu berpaling, sesungguhnya aku takut kamu (akan) ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat). (QS Hud ayat 3)
Selain itu, kita dianjurkan untuk memohon ampunan kepada Allah dengan penuh keikhlasan, disertai tobat, yaitu kembali kepada-Nya dengan menyesali kesalahan dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Nabi Muhammad SAW. bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Artinya; "Setiap anak Adam (manusia) pasti pernah memiliki kesalahan/dosa, dan sebaik-baik dari orang yang memiliki kesalahan adalah orang-orang yang mau bertaubat," (HR Ibnu Majah)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Memperbanyak istighfar di bulan Syaban menjadi salah satu sebab diampuninya dosa-dosa yang telah kita perbuat, terlebih jika dilakukan dalam keadaan berpuasa, baik puasa sunnah maupun saat melunasi utang puasa wajib. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathā’iful Ma‘ārif:
وَأَمَّا كَلِمَةُ الْإِسْتِغْفَار، فَمِن أَعْظَمِ أَسْبَابِ الْمَغْفِرَةِ، فَإِنَّ الْإِسْتِغْفَارُ دُعَاءٌ بِالْمَغْفِرَةِ، وَدُعَاءُ الصَّائِمِ مُسْتَجَابٌ فِى حَالِ صِيَامِهِ، وَعِنْدَ فِطْرِهِ
Artinya, “Adapun kalimat istighfar, maka ia termasuk sebab yang paling besar datangnya ampunan, karena istighfar adalah doa memohon ampunan, dan doa orang yang berpuasa itu dikabulkan ketika ia berpuasa dan ketika ia berbuka,” (Ibnu Rajab al-Hanbaly, Latha`iful Ma’arif, [Beirut, Dar Ibn Katsir], halaman 383)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita manfaatkan momentum yang penuh berkah pada bulan Syaban ini dengan memperbanyak istighfar dan berbagai kebaikan lainnya, agar hati kita menjadi bersih dan semoga kita juga termasuk ke dalam orang-orang yang mendapatkan keberkahan di bulan Syaban. Seperti halnya doa yang senantiasa dipanjatkan oleh Rasulullah SAW:
اَللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Artinya, "Ya Allah, berkatilah kami pada Bulan Rajab dan Syaban. Sampaikan kami ke Bulan Ramadhan,"
Untuk menutup khutbah ini, marilah kita berdoa agar Allah senantiasa memberikan keberkahan, kesehatan dan kemudahan kepada kita semua untuk melaksanakan kebaikan-kebaikan yang telah diperintahkan oleh Allah, serta dijauhkan dari segala fitnah, penyakit, musibah, dan marabahaya. Amin ya rabbal alamin.
Demikian dua contoh khutbah Jumat bertema bulan Syaban, semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan ke-Islaman.
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu






