Xi Jinping Beri Peringatan Keras kepada Donald Trump soal Penjualan Senjata ke Taiwan

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 05 Februari 2026 | 23:00 WIB
Suasana pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan. (Foto/YouTube White House)
Suasana pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan. (Foto/YouTube White House)

BeritaNasional.com - Presiden China Xi Jinping menegaskan posisi keras Beijing terkait isu Taiwan dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (4/2/2026) waktu setempat. 

Xi menyebut Taiwan sebagai persoalan terpenting yang dapat menentukan arah hubungan kedua negara di masa depan.

Dalam percakapan tersebut, Xi secara khusus memperingatkan Trump agar Washington "bertindak hati-hati" dalam memasok persenjataan ke Taiwan. Beijing memandang dukungan militer AS terhadap pulau tersebut sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan dan integritas wilayah China.

"Amerika Serikat harus menangani masalah penjualan senjata ke Taiwan dengan hati-hati," tegas Xi sebagaimana dilaporkan media pemerintah China. Meski demikian, Xi menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan Washington demi stabilitas global.

Menanggapi panggilan telepon tersebut, Donald Trump melalui unggahan di Truth Social menyebut diskusi mereka berlangsung "sangat baik, panjang, dan menyeluruh." Trump juga mengungkapkan rencana kunjungannya ke China pada April mendatang.

Sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan ekonomi, Beijing dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk menaikkan pembelian kedelai AS dari 12 juta ton menjadi 20 juta ton.

"Hubungan dengan China, dan hubungan pribadi saya dengan Presiden Xi, sangat baik. Kami berdua menyadari betapa pentingnya menjaga hubungan ini," tulis Trump. Selain Taiwan dan perdagangan, keduanya juga membahas isu global lain seperti perang di Ukraina, situasi Iran, serta pembelian minyak dan gas.

Hubungan China-AS mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi pasca pertemuan tatap muka kedua pemimpin di Korea Selatan pada Oktober lalu. Kesepakatan terkait tarif, ekspor logam tanah jarang, hingga penyelesaian masalah TikTok menjadi bukti adanya upaya de-eskalasi.

Namun, isu Taiwan tetap menjadi duri dalam daging. Sebelumnya, pada Desember lalu, pemerintahan Trump menyetujui paket penjualan senjata senilai $11 miliar (sekitar Rp173 triliun) ke Taiwan. Langkah ini sempat memicu kemarahan Beijing yang memperingatkan adanya risiko "situasi berbahaya" di Selat Taiwan.

"Sama seperti Amerika Serikat yang memiliki kekhawatiran, China pun demikian. Jika kedua belah pihak bekerja dengan semangat kesetaraan dan rasa hormat, kita pasti dapat mengatasi kekhawatiran masing-masing," tambah Xi kepada Trump.

Di sisi lain, pemimpin Taiwan Lai Ching-te menanggapi situasi ini dengan tenang. Ia menyatakan bahwa hubungan Taiwan-AS tetap "kokoh" dan seluruh proyek kerja sama tetap berjalan sesuai rencana.

Menariknya, hanya beberapa jam sebelum berbicara dengan Trump, Xi Jinping sempat melakukan pertemuan virtual dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Media pemerintah China menyebut rangkaian diplomasi tingkat tinggi ini sebagai bukti bahwa Beijing merupakan "kekuatan penstabil" di tengah meningkatnya konfrontasi dan unilateralisme dunia.

Sumber: BBC Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: