Anak SD Bunuh Diri di NTT, Mensos Evaluasi Pendataan dan Penyaluran Bansos

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 05 Februari 2026 | 20:21 WIB
Mensos Syaifullah Yusuf (Gus Ipul). (BeritaNasional/Kemensos)
Mensos Syaifullah Yusuf (Gus Ipul). (BeritaNasional/Kemensos)

BeritaNasional.com - Menyikapi kasus anak SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang nekat mengakhiri hidupnya akibat persoalan ekonomi keluarga, Kementerian Sosial (Kemensos) mengevaluasi mekanisme pendataan dan penyaluran perlindungan sosial 

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf melihat bahwa peristiwa ini menjadi momentum untuk memastikan data penerima bantuan tidak semata dipahami sebagai angka, melainkan mencerminkan keadilan dan keberpihakan terhadap kelompok rentan.

"Ya, benar kita jujur saja, menjadi bahan evaluasi bersama. Jadi jangan sampai data ini dilihat sebagai angka tapi di dalamnya ada keadilan, ada rasa keadilan," kata pria yang akrab disapa Gus Ipul di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Menurut Gus Ipul, Kemensos telah mengirimkan tim asesmen ke Kabupaten Ngada untuk mendalami kondisi keluarga korban dan memverifikasi status sosial ekonomi yang bersangkutan.

Ia pun mengonfirmasi bahwa korban tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP), sementara kakek dan nenek korban tercatat sebagai penerima bantuan sosial (bansos) reguler Kemensos. Namun, bantuan tersebut diketahui sempat terputus dan tidak diterima langsung oleh ibu korban.

"Saya tidak tahu mengapa sempat terputus," ungkapnya. 

Gus Ipul pun menceritakan bahwa korban diketahui tinggal bersama kakek dan neneknya, sementara ibunya yang merupakan orang tua tunggal bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak. Dan pada saat kejadian, korban disebut sedang berada di rumah ibunya.

Menurut Mensos, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya celah dalam mekanisme pemutakhiran data perlindungan sosial di daerah, terutama bagi anak-anak yang berpindah tempat tinggal dan berada di luar satuan keluarga penerima bantuan.

Sebagai tindak lanjut, Kemensos juga telah menyalurkan bantuan kepada keluarga korban dengan total nilai Rp9 juta, yang terdiri atas santunan sosial Rp5 juta, bantuan sembako dan nutrisi Rp1,5 juta, serta bantuan sandang Rp2,5 juta.

Kemensos juga memastikan keberlanjutan pendidikan bagi saudara korban melalui program perlindungan sosial yang relevan, salah satunya Sekolah Rakyat.

"Peristiwa di Ngada tersebut menegaskan pentingnya penguatan pendataan terpadu dan perluasan jangkauan program perlindungan anak, khususnya di daerah dengan tingkat kerentanan sosial ekonomi seperti Nusa Tenggara Timur, dan juga di daerah-daerah lainnya," tandas Mensos.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: