Tragedi Anak SD di NTT, Wakapolri Perintahkan Polisi Ikut Kawal 12 Program Bantuan Pemerintah

Oleh: Bachtiarudin Alam
Jumat, 06 Februari 2026 | 15:40 WIB
Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo (BeritaNasional/Humas Polri)
Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo (BeritaNasional/Humas Polri)

BeritaNasional.com -  Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo menyampaikan duka cita mendalam atas tragedi anak berinisial YRB (10) siswa kelas IV SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri karena masalah ekonomi keluarga.

Menurut Dedi, Polri harus berperan agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Kejadian tersebut harus menjadi momentum untuk semakin mengoptimalkan berbagai program kesejahteraan yang telah disiapkan pemerintah agar sampai kepada masyarakat yang berhak.

“Peristiwa ini menjadi pengingat agar negara hadir lebih cepat dan lebih nyata bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar Dedi dalam keteranganya, Jumat (6/2/2026).

Dedi menegaskan, Presiden Republik Indonesia telah menyiapkan skema APBN 2026 yang sangat komprehensif untuk mempercepat pengentasan kemiskinan ekstrem melalui berbagai program bantuan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi.

“Pemerintah punya program, siapkan anggaran, dan kita punya semangat gotong royong. Yang harus kita pastikan adalah implementasinya benar-benar menyentuh keluarga-keluarga yang membutuhkan,” ujarnya.

Ia optimistis bahwa dengan kerja bersama dan pengawalan yang kuat, target nasional menuju 0 persen kemiskinan ekstrem dapat diwujudkan. Polri dapat berperan dalam membantu menyukseskan kebijakan Presiden melalui jaringan kelembagaan yang menjangkau hingga tingkat desa.

“Arah kebijakan Presiden yang tertuang dalam APBN 2026 sangat relevan untuk disosialisasikan melalui Polri, karena telah menyiapkan program yang sangat lengkap guna membantu masyarakat terhindar dari kemiskinan ekstrem,” jelasnya.

“Tugas Polri adalah memastikan seluruh kebijakan tersebut benar-benar sampai kepada rakyat, tepat sasaran, dan berjalan efektif di lapangan,” tambah dia.

Masukan tersebut menjadi landasan penting bagi Polri untuk bergerak lebih proaktif dalam mendukung percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem di seluruh Indonesia. Sebagai langkah nyata, Dedi memerintahkan seluruh jajaran Polri untuk lebih aktif di tengah masyarakat.

“Saya instruksikan kepada para Kapolres bersama pemerintah daerah agar lebih banyak turun melihat kondisi objektif di lapangan. Lakukan pendataan keluarga miskin ekstrem secara langsung, bantu verifikasi data, dan dampingi masyarakat agar bisa mengakses seluruh program bantuan pemerintah,” pinta Dedi. 

“Polri harus menjadi jembatan kehadiran negara. Jangan sampai ada warga yang berhak menerima bantuan tetapi tidak mengetahui caranya atau kesulitan mengaksesnya,” tegas Wakapolri.

Untuk memastikan masyarakat memahami haknya, Polri akan membantu menyosialisasikan dan mengawal berbagai program pemerintah, antara lain:

  1.  Program Keluarga Harapan (PKH) bagi 10 juta keluarga
  2.  Bantuan Sembako Rp200 ribu per bulan bagi 18,3 juta keluarga
  3.  Beasiswa PIP, KIP Kuliah, dan Beasiswa Sekolah Rakyat Berasrama
  4.  Bantuan Permakanan bagi lansia dan disabilitas
  5.  Bantuan Anak Yatim Piatu (YAPI)
  6.  PBI Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi 96,8 juta masyarakat
  7.  Program Rumah Sejahtera Terpadu (RST)
  8.  Subsidi listrik, LPG, BBM, pupuk, dan KUR
  9.  Sertifikat halal gratis bagi UMK
  10.  Uang saku magang bagi fresh graduate
  11.  Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk 82,9 juta penerima manfaat
  12.  Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi 130,3 juta masyarakat.

“Semua program ini adalah wujud nyata kehadiran negara. Tugas Polri memastikan masyarakat mengetahui, mengakses, dan menerima haknya dengan mudah,” jelas Wakapolri.

Kesimpulan Kasus Kematian Anak SD Bunuh Diri

Sebelumnya, Polisi telah mengumumkan kesimpulan dari penyelidikan atas kejadian anak berinisial YRB (10) siswa kelas IV SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ditemukan gantung diri di pohon cengkeh.

Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino menjelaskan penyebab aksi itu dilakukan korban, bukan karena meminta alat tulis kepada ibunya. Sedangkan, soal buku dan pena itu disampaikan ibu korban saat menceritakan permintaan terakhir anaknya.

"Fakta di lapangan bukan karena alat tulisnya, melainkan karena sering dinasihati oleh orang tuanya. Hal ini dikarenakan si anak dalam satu minggu itu beberapa kali tidak masuk sekolah dengan alasan sakit," ujar Andrey saat dihubungi, Rabu (4/2/2026).

Andrey menjelaskan, hasil pemeriksaan pada malam sebelumnya, orang tua korban sempat memberikan nasihat kepada YRB untuk tidak bermain hujan-hujanan. Nasihat itu diberikan agar si anak tidak sakit yang akhirnya kembali izin sekolah. 

"Namun, mungkin yang namanya orang tua memberikan nasihat, penerimaan anaknya mungkin merasa tersinggung atau bagaimana,” jelasnya.

“Jadi ceritanya bukan karena alat tulis, tetapi karena sering dinasihati oleh ibunya mengenai pemberian nasihat tersebut," sambungnya.

Sementara, Andrey memastikan, terkait nasihat yang diberikan orang tuanya tidak ditemukan adanya tindakan kekerasan. Fakta itu didukung hasil visum terhadal korban dengan hasil tidak ada tanda kekerasan.

Selain itu, hasil penyelidikan juga tidak menemukan adanya indikasi perundungan atau bullying di sekolah hingga mengakibatkan anak tersebut jarang masuk. Sehingga terkait aksi bunuh diri yang dilakukan korban disimpulkan atas inisiatifnya sendiri.

"Kita dapat menyimpulkan bahwa ini memang murni dari niatan si korban itu sendiri untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu. Tetapi, kita juga tidak berhenti, kita tetap melakukan penyelidikan, kemudian kita juga meminta keterangan dari yang lain mengenai faktor-faktor penyebabnya," tuturnya.sinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: