Pemprov DKI Sebut Pembangunan PLTSa di Jakarta Dimulai Pertengahan 2026
BeritaNasional.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan, pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) atau intermediate treatment facility (ITF) di Jakarta akan mulai dibangun pada pertengahan 2026.
Pramono mengatakan, pembangunan PLTSa menjadi bagian dari upaya pengelolaan sampah sekaligus mendukung transisi energi di Ibu Kota.
Ia menargetkan proses pembangunan dapat mulai berjalan pada pertengahan tahun depan.
"Jakarta sekarang ini, hal yang berkaitan dengan pengolahan sampah, sebentar lagi akan ada beberapa (pembangkit listrik tenaga sampah)," kata Pramono di Jakarta Selatan, dikutip Rabu (11/2/2026).
"Mudah-mudahan kita akan bisa start, mudah-mudahan di pertengahan tahun ini," tambah dia.
Pramono berujar, Jakarta telah memiliki lahan untuk pembangunan ITF di Sunter, Jakarta Utara yang akan kembali dilanjutkan.
Selain itu, fasilitas serupa juga direncanakan dibangun di Rorotan, Bantargebang, dan Jakarta Barat.
Menurut Pramono, pembangunan PLTSa tidak hanya bertujuan mengurangi beban sampah Jakarta, tetapi juga diarahkan untuk mendukung pengurangan emisi dengan menggantikan pembangkit listrik berbasis batu bara.
"Kalau itu bisa dilakukan, maka kontribusi yang signifikan akan mengurangi atau menurunkan kontribusi emisi yang ada di Jakarta," ujar Pramono.
Pramono juga menyinggung ancaman kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang diproyeksikan akan penuh dalam beberapa tahun ke depan jika tidak ada perubahan signifikan dalam sistem pengolahan sampah.
Karena itu, Pemprov DKI menjadikan pembangunan PLTSa sebagai langkah utama untuk mengurangi timbunan sampah.
Pramono menyebut Jakarta membutuhkan setidaknya empat PLTSa untuk mengatasi persoalan sampah yang kian menumpuk.
"Sesuai dengan pembicaraan dengan Danantara pada waktu itu, dengan Pak Rosan secara langsung, akan ada dua pembangkit listrik tenaga sampah," ucap Pramono.
Pramono berharap, keberadaan PLTSa dapat mengurangi timbunan sampah lama di Bantargebang yang saat ini disebut telah mencapai sekitar 55 juta ton.
"Mudah-mudahan 55 juta ton yang sekarang stok ada di Bantargebang secara signifikan pelan-pelan akan turun. Itu yang akan kami lakukan," tandasnya.

TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
POLITIK | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
EKBIS | 23 jam yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
DUNIA | 2 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu







