Guru Besar UI Dorong Desain Jalan Berbasis Batas Kemampuan Manusia untuk Tekan Angka Kecelakaan
BeritaNasional.com - Angka kecelakaan lalu lintas yang masih tinggi memicu perlunya perubahan paradigma dalam pembangunan infrastruktur transportasi di Indonesia.
Guru Besar Tetap Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Prof. Martha Leni Siregar menekankan pentingnya merancang sistem transportasi yang lebih manusiawi dengan mempertimbangkan batas kemampuan fisik tubuh manusia.
Pakar ilmu keselamatan transportasi ini menjelaskan kecepatan adalah faktor penentu hidup atau mati dalam sebuah benturan.
"Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin besar risiko kematian. Karena itu, sistem transportasi harus dirancang dengan mempertimbangkan batas kemampuan tubuh manusia saat terjadi benturan," kata Martha dalam keterangan resminya di laman UI pada Jumat (13/2/2026).
Menurut dia, penanganan kecelakaan di Indonesia selama ini masih cenderung bersifat reaktif atau baru bertindak setelah kejadian.
Ia mendorong adanya pendekatan proaktif melalui pengaturan kecepatan yang aman.
Tujuannya, memastikan jika terjadi kecelakaan dampaknya tidak sampai merenggut nyawa.
Desain jalan yang tepat memegang peranan kunci untuk menjaga agar kendaraan tetap melaju dalam batas kecepatan yang bisa ditoleransi oleh tubuh manusia. Namun, ia mengakui bahwa kondisi di lapangan tidaklah sederhana.
“Di Indonesia, tantangan besar datang dari banyaknya jenis kendaraan dan perbedaan kecepatan antarkendaraan. Kondisi lalu lintas yang beragam ini membuat risiko kecelakaan semakin tinggi. Karena itu, dibutuhkan sistem yang menyeluruh untuk mengatur perbedaan kecepatan,” ucap Prof. Martha.
Salah satu poin krusial dalam pendekatan "Sistem Berkeselamatan" (Safe System Approach) yang ditawarkan adalah pengakuan bahwa manusia bisa melakukan kesalahan.
Karena itu, infrastruktur harus mampu mengantisipasi kesalahan tersebut, bukan sekadar mencari siapa yang bersalah saat terjadi insiden.
Ia menegaskan bahwa pertanyaan yang harus diajukan bukan lagi tentang kelalaian individu, melainkan mengapa sistem yang ada membiarkan benturan keras terjadi hingga melampaui daya tahan fisik manusia.
“Kita harus menggeser paradigma keselamatan secara fundamental menuju pendekatan yang berorientasi pada pencegahan cedera fatal," tegasnya.
Martha meminta agar prinsip kecepatan yang berkeselamatan dijadikan inti dalam setiap perencanaan, desain hingga pengelolaan transportasi.
Keselamatan tidak boleh lagi dipandang sebagai keberuntungan, melainkan produk dari sistem yang dirancang dengan matang.
PERISTIWA | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
EKBIS | 20 jam yang lalu
EKBIS | 19 jam yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
HUKUM | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu







