Demo Mahasiswa di Teheran Berlanjut, Slogan Anti‑Pemerintah Menguat

Oleh: Tim Redaksi
Minggu, 22 Februari 2026 | 21:51 WIB
Ilustrasi Iran. (Foto/Pixabay)
Ilustrasi Iran. (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com - Beberapa universitas di Teheran, Iran, kembali menjadi pusat aksi mahasiswa, sehari setelah protes besar terjadi pada Sabtu lalu.

Demonstrasi ini menampilkan kontras tajam antara kelompok pro-pemerintah dan anti-pemerintah.

Video yang diverifikasi menunjukkan kericuhan singkat di Amirkabir University, saat mahasiswa yang berduka atas korban kerusuhan Januari bertemu dengan pendukung rezim.

Menurut Profesor Hossein Goldansaz, universitas tetap mengizinkan aksi selama tidak melanggar batas aman dan memicu kekerasan.

"Mahasiswa ingin menghormati teman-teman mereka yang meninggal dalam kerusuhan," ujar Goldansaz kepada Mehr News Agency, dikutip Minggu (22/2/2026).

"Kami akan memberi izin selama mereka tetap aman," lanjutnya.

Protes besar terjadi di Sharif University of Technology, di mana mahasiswa meneriakkan slogan anti-pemerintah dan menyerukan kembalinya Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran, sebagai simbol perubahan.

Di universitas lain, mahasiswa menggelar duduk bersama dan aksi damai untuk mengenang ribuan korban kerusuhan Januari.

Di Mashhad, kota terbesar kedua Iran, mahasiswa berteriak: “Kebebasan! Kebebasan! Mahasiswa, teriak demi hak kalian!” Video dan foto yang diverifikasi menunjukkan aksi damai, meski ketegangan tetap tinggi dengan kelompok pro-pemerintah yang tak jauh dari lokasi.

Latar Belakang Kerusuhan

Kerusuhan bulan lalu bermula dari keluhan ekonomi namun dengan cepat berubah menjadi aksi anti-pemerintah terbesar sejak Revolusi Islam 1979.

Laporan dari Human Rights Activists News Agency (Hrana) menyebut setidaknya 7.015 orang tewas, termasuk 226 anak-anak, sementara pemerintah Iran mengklaim lebih dari 3.100 korban, kebanyakan petugas keamanan atau warga sipil.

Aksi mahasiswa ini terjadi di tengah ketegangan militer antara AS dan Iran. Presiden Donald Trump meningkatkan kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah, termasuk mengirim USS Gerald R. Ford Carrier Strike Group.

Trump sebelumnya juga mengklaim hingga 32.000 orang tewas dalam kerusuhan terakhir, angka yang jauh lebih tinggi dari laporan resmi.

Sementara itu, negosiasi nuklir antara AS dan Iran terus berjalan, dengan pertemuan terbaru di Swiss yang diklaim mencapai kemajuan, meski Trump memperingatkan kemungkinan aksi militer jika kesepakatan gagal tercapai.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: