SBY: Indonesia Harus Perkuat Kekuatan Udara Hadapi Perang Modern

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 23 Februari 2026 | 20:20 WIB
SBY ingatkan potensi perang dunia III, ini tanda-tandanya. (Foto/YouTube ITS)
SBY ingatkan potensi perang dunia III, ini tanda-tandanya. (Foto/YouTube ITS)

BeritaNasional.com - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menekankan urgensi memperkuat kekuatan udara Indonesia di tengah perubahan karakter peperangan global. Hal itu disampaikan dalam kuliah umum di Gedung Lemhannas, Jakarta, Senin (23/2/2026).

Menurut SBY, dunia telah memasuki era perang modern yang tidak lagi bertumpu pada kekuatan darat semata. Perang siber, kecerdasan buatan, robotik, hingga strategi di luar pola konvensional kini menjadi bagian dari lanskap pertahanan.

“Dunia AI, dunia robotik, dunia beyond conventional thinking, conventional warfare, kita harus siap. Jadi jangan takut," kata SBY.

Ia mengingatkan, Indonesia tak bisa lagi hanya mengandalkan doktrin lama yang memprioritaskan angkatan darat. Dalam konteks ancaman masa kini, kekuatan udara memegang peran krusial.

“Dulu kan seolah-olah untuk Indonesia diutamakan angkatan darat atau army. Sekarang, air power ini sangat penting," pesan SBY.

SBY juga menggambarkan skenario serangan udara yang langsung menyasar pusat pemerintahan dan objek vital strategis.

“Sekarang begitu ada air strike menghancurkan Jakarta, Pindad di Bandung, PAL di Surabaya, kota-kota yang lain apa yang kita lakukan? Hayo?" ujarnya.

Ia menjelaskan, doktrin pertahanan lama seperti Hankamrata dahulu berfokus pada pertahanan wilayah perbatasan, pantai, dan perang gerilya. “Itu kan doktrinnya dulu,” ucapnya.

Namun, kemajuan teknologi militer membuat pola serangan kini jauh lebih cepat dan langsung menghantam titik strategis.

Karena itu, SBY menegaskan pentingnya membangun sumber daya, meningkatkan keterampilan, dan menyusun kebijakan yang adaptif.

“Kita masih perlu, resource kita, kita bangun, skill kita harus dibangun, policy-nya harus dibikin. Jadi bagi saya apapun harus siap karena kita tidak bisa pilih-pilih," katanya.

Ia menutup dengan penegasan bahwa perang modern dan konsep hybrid warfare menuntut kesiapan menyeluruh, baik dari sisi militer konvensional maupun teknologi.

“Jadi ini modern warfare, modern teknologi, modern doctrine, semuanya harus siap. Dan kalau hybrid intinya, tidak memilih. Semuanya harus siap dilakukan. Intinya begitu," pungkasnya.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: