Soal Reza Pahlavi, Kedubes Iran: Dia Bukan Negarawan

Oleh: Dyah Ratna Meta Novia
Senin, 02 Maret 2026 | 19:33 WIB
Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi (Beritanasional/Meta)
Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi (Beritanasional/Meta)

BeritaNasional.com - Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengatakan, selama ini Amerika Serikat (AS) mengklaim selalu ingin membantu masyarakat Iran. Namun jenis bantuan seperti apa? Masak membantu malah membunuh anak-anak Iran dengan melakukan serangan ke sekolah Iran.

"Selama ini bantuan AS hanya memberikan kehancuran dan kerusakan total, tidak dapat apa-apa hanya dapat kehancuran," ujarnya dalam konferensi pers.

AS, terang dia, pernah mengaku membantu Iran melakukan demokratisasi. Namun realitasnya pada 1953 AS dan CIA malah membantu menggulingkan Perdana Menteri Iran yang resmi, Mohammad Mossadeq, yang menasionalisasi industri minyak.

Kudeta yang dibantu AS itu mengembalikan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang pro-Barat. Namun kekuasaan dia tidak berlangsung lama. 

Shah Mohammad Reza Pahlavi berkuasa antara tahun 1953 hingga 1979 dengan dukungan Barat. Kemudian memicu kebencian rakyat Iran dan berakhir pada Revolusi Islam 1979. 

Revolusi yang mengubah Iran dari Monarki di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi, menjadi Republik Islam yang dipimpin oleh Ayatollah Agung Ruhollah Khomeini, pemimpin revolusi dan pendiri dari Republik Islam.

"Sama seperti saat ini AS dalam langkahnya di Iran, mendorong rakyat Iran melakukan kudeta terhadap pemerintah yang sah. Namun hingga kini langkah AS itu tidak sukses, maka mereka memberlakukan berbagai sanksi ke Iran dan mengirim intelijen dan mata-mata di negara kami," kata Mohammad Boroujerdi. 

Sebelum menyerang Iran, AS juga menciptakan ketidakpuasan ekonomi, yang membuat rakyat unjuk rasa. "Ini merupakan hasil kerja-kerja intelijen AS seperti CIA maupun intelijen Israel, Mossad."

AS dan Israel, ujar dia, tentu dengan kedok memberikan dukungan HAM dan demokrasi, mereka menyalahgunakan hal mulia ini jadi alat politik dan kepentingan mereka sendiri.

Terkait dengan munculnya Reza Pahlavi yang merupakan putra sulung sekaligus putra mahkota dari Mohammad Reza Pahlavi, Shah (Raja) terakhir Iran yang digulingkan dalam Revolusi 1979, Mohammad Boroujerdi mengatakan, mereka senang saat AS dan Israel melakukan serangan terhadap Iran.

"Apakah mungkin orang yang berharap Iran dibom AS, pantas dianggap negarawan? Saya kira orang seperti itu bukan negarawan. Kami tidak menganggap Shah Iran, dan rakyat kami juga tidak menganggap orang seperti itu dengan serius," ujarnya.

"Memang ada saja warga yang unjuk rasa. Tapi saya rasa mereka juga enggak menganggap dia (Reza Pahlevi). Sebab ia bukan bukan negarawan," katanya.sinpo

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Komentar: