Menkes Ungkap Meningkatnya Angka Anak Ingin Bunuh Diri, Pemicunya Keluarga hingga Bullying

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 05 Maret 2026 | 18:45 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin. (BeritaNasional/Elvis)
Menkes Budi Gunadi Sadikin. (BeritaNasional/Elvis)

BeritaNasional.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkap adanya peningkatan angka anak Indonesia yang ingin mengakhiri hidupnya atau bunuh diri dalam tujuh tahun terakhir. Hal ini menjadi alarm kesehatan mental anak sehingga diperlukan upaya mengatasi isu itu di lingkungan keluarga dan sekolah. Itulah yang menjadi dasar penetapan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak

Berdasarkan data Global School-Based Student Health Survey (GSHS) pada 2015 dan 2023, memperlihatkan persentase siswa yang berpikir ingin mengakhiri hidup meningkat 1,6 kali lipat, dari 5,4 persen menjadi 8,5 persen.

"Kita mencoba menyelesaikannya sedini mungkin, jadi di hulu. Tadi juga ada data yang memperlihatkan keinginan untuk bunuh diri, berpikir dan mencoba ini terjadi terutama karena masalah di keluarga. Kemudian yang kedua adalah masalah bullying, ini bisa terjadi di sekolah, bisa di luar sekolah karena melihat sosial media," jelas Menkes Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Survei yang sama juga memperlihatkan persentase siswa yang mencoba mengakhiri hidup meningkat 2,7 kali lipat, dari 3,9 persen pada 2016 menjadi 10,7 persen pada 2023. Data yang sama memperlihatkan siswa perempuan punya kecenderungan lebih tinggi baik untuk yang berpikir maupun mencoba mengakhiri hidup.

Selain itu, Menkes juga menyoroti data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2023-2025 yang memperlihatkan usia 11-17 tahun menjadi kelompok usia paling tinggi yang mengakhiri hidup.

Berdasarkan data KPAI serta laporan kesehatan mental online Kemenkes Healing119.id, menemukan faktor utama pemicu keinginan bunuh diri pada anak adalah pengasuhan dan konflik keluarga dengan persentase 24-46 persen, perundungan (bullying) 14-18 persen, masalah psikologis 8-26 persen dan tekanan akademik 7-16 persen.

Untuk itu, kata Budi Gunadi, dengan penandatanganan SKB yang dilakukan sembilan kementerian dan lembaga ini dimaksudkan untuk mengatasi berbagai isu tersebut mulai dari rumah tangga dan sekolah.

"Yang terutama adalah simpul keluarga karena ini yang paling besar presentasinya Itu sebabnya kenapa diajak juga Mendukbangga, Menteri Sosial, Menteri Agama itu untuk memastikan bahwa keluarga ini kita perbaiki gaya hidupnya agar bisa memberikan lingkungan yang lebih baik bagi anak-anak," jelas Menkes.

Di sisi lain, upaya edukasi, sosialisasi, pencegahan serta screening itu juga terus didorong di sekolah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Agama (Kemenag).

Sebelumnya, Menkes bersama delapan menteri yakni, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi serta Menkomdigi Meutya Hafid, Mensos Saifullah Yusuf, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, Mendagri Tito Karnavian, Menag Nasaruddin Umar, dan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menandatangani SKB tentang Kesehatan Jiwa Anak di Jakarta pada Kamis (5/3/2026) siang tadi.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: