Usai Lebaran Berat Badan Naik? Bisa Jadi 5 Kebiasaan Ini Penyebabnya

Oleh: Tim Redaksi
Minggu, 22 Maret 2026 | 14:31 WIB
Ilustrasi masakan saat lebaran. (Foto/freepik)
Ilustrasi masakan saat lebaran. (Foto/freepik)

BeritaNasional.com - Setelah perayaan Lebaran usai, banyak orang mendapati angka timbangan justru ikut naik. Kondisi ini umumnya dipicu oleh sejumlah kebiasaan yang tanpa disadari kerap dilakukan setelah Hari Raya, mulai dari makan berlebihan saat silaturahmi hingga kurang bergerak selama masa libur.

Berdasarkan berbagai sumber kesehatan terpercaya, kenaikan berat badan pasca-Lebaran biasanya terjadi akibat kombinasi pola makan tinggi kalori, kebiasaan ngemil kue kering dan camilan manis, konsumsi minuman bergula berlebihan, aktivitas fisik yang menurun, serta pola tidur yang belum kembali teratur setelah libur panjang.

5 Kebiasaan Setelah Lebaran yang Membuat Berat Badan Naik

1. Makan berlebihan saat silaturahmi

Setelah Lebaran, banyak orang masih terus menyantap opor, rendang, ketupat, sambal goreng ati, kue kering, dan makanan bersantan dalam porsi besar. Kebiasaan ini membuat asupan kalori harian melonjak, apalagi jika makan berulang di banyak rumah saat halal bihalal.
Secara umum, berat badan naik ketika asupan kalori lebih besar daripada kalori yang dibakar tubuh. CDC menegaskan bahwa pengelolaan berat badan sangat dipengaruhi keseimbangan antara kalori masuk dan aktivitas fisik.

2. Terlalu sering ngemil kue kering dan camilan manis

Kebiasaan “cuma satu toples” sering jadi jebakan. Nastar, kastengel, putri salju, cokelat, hingga keripik mudah dikonsumsi tanpa terasa karena porsinya kecil, tetapi total kalorinya bisa tinggi jika dimakan berulang sepanjang hari.
Ngemil tanpa kontrol membuat total kalori harian meningkat, meski seseorang merasa tidak sedang makan besar. CDC menjelaskan bahwa kelebihan kalori yang tidak digunakan tubuh akan berkontribusi pada kenaikan berat badan.

3. Minum minuman manis berlebihan

Sirup, es teh manis, soda, kopi susu, hingga minuman kemasan saat kumpul keluarga sering dikonsumsi berkali-kali dalam sehari. Padahal, minuman manis menambah kalori cukup besar tanpa memberi rasa kenyang yang tahan lama.
Akibatnya, kalori bertambah dari minuman sekaligus dari makanan utama. Ini menjadi salah satu pola paling umum yang memicu berat badan naik setelah masa libur dan perayaan. Prinsip dasarnya tetap sama: surplus kalori meningkatkan risiko kenaikan berat badan.

4. Aktivitas fisik menurun setelah libur

Setelah Lebaran, banyak orang lebih banyak duduk, rebahan, bepergian naik kendaraan, atau libur olahraga. Padahal, ketika asupan makan meningkat tetapi gerak tubuh menurun, kalori yang terbakar jadi jauh lebih sedikit.
WHO menyebut kurang aktivitas fisik dan perilaku sedentari (banyak duduk/kurang bergerak) berkaitan dengan dampak kesehatan yang buruk. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan minimal 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu, sedangkan CDC juga menegaskan aktivitas fisik penting untuk menjaga berat badan tetap stabil.

5. Pola tidur berantakan setelah Lebaran

Begadang karena kumpul keluarga, perjalanan mudik-balik, atau jadwal makan yang berubah setelah Ramadan bisa membuat jam tidur kacau. Kurang tidur sering membuat orang lebih mudah lapar, ingin ngemil, dan cenderung memilih makanan tinggi gula atau lemak.
WHO juga mencatat aktivitas fisik teratur berhubungan dengan perbaikan kualitas tidur, sementara perilaku sedentari yang tinggi dan rutinitas yang berantakan dapat berdampak pada kesehatan secara keseluruhan. Pola hidup setelah Lebaran yang tidak kembali stabil sering ikut memicu kenaikan berat badan.sinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: