Pimpinan Komisi X DPR Tolak Wacana Belajar Online, Minta Pemerintah Cari Strategi Penghematan Energi Lain

Oleh: Tim Redaksi
Senin, 23 Maret 2026 | 19:59 WIB
Ilustrasi siswa belajar online di rumah. (BeritaNasional/Gemini AI-Kiswondari)
Ilustrasi siswa belajar online di rumah. (BeritaNasional/Gemini AI-Kiswondari)

BeritaNasional.com - Merespons wacana kebijakan pembelajaran secara daring mulai April 2026 dalam rangka efisiensi atau strategi penghematan energi, Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayanti menyatakan penolakannya. Belajar dari pengalaman COVID-19, strategi pembelajaran daring kurang efektif bagi siswa sekolah, sehingga perlu dikaji lebih mendalam.

"Pembelajaran secara daring pernah kita laksanakan ketika terjadi wabah COVID-19. Dan kita semua tahu sistem tersebut meninggalkan problem yang tidak sederhana bagi dunia pendidikan kita," kata Esti dalam keterangan tertulisnya, Senin (23/3/2026).

Dia menjelaskan, dampak yang dimaksud meliputi tantangan kemampuan anak dalam menyerap materi pelajaran, kedisiplinan, pembentukan karakter, kendala teknologi, dan lain sebagainya.

"Hal-hal tersebut adalah problem yang tidak sederhana,"ujarnya.

Esti menyampaikan, salah satu dampak dari pembelajaran jarak jauh semasa pandemi COVID-19 adalah learning loss, yakni fenomena yang memunculkan keadaan ketika peserta didik malas belajar dan cenderung melupakan sekolahnya.

Kemampuan kognitif pelajar yang semakin menurun pasca kebijakan pembelajaran daring juga terlihat dari beberapa hasil pemantauan tumbuh kembang anak di Indonesia.

Selain ketertinggalan di bidang akademis, seperti learning loss yang dialami para siswa, menurut politikus PDIP ini, sistem pembelajaran jarak jauh juga menimbulkan dampak pada aspek psikologis, dan kesehatan fisik anak.

"Sistem daring sulit menerapkan pelajaran pada aspek afektif seperti kepribadian, sikap, dan karakter," terangnya.

Oleh karena itu, Esti mendorong pemerintah mencari solusi lain dalam mengantisipasi dampak kondisi global. Dia menegaskan bahwa pendidikan anak-anak tidak boleh dikorbankan karena dapat menyebabkan dampak berkepanjangan.

"Pasti masih ada langkah alternatif terbaik untuk mengatasi persoalan perekonomian imbas kemungkinan naiknya harga minyak karena kondisi global dunia," tandas Esti.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: