Austria juga Tolak Wilayah Udaranya Digunakan AS untuk Perang Iran
BeritaNasional.com - Austria dengan tegas menolak permintaan Amerika Serikat (AS) yang ingin menggunakan wilayah udaranya untuk melancarkan operasi militer melawan Iran. Pasalnya, negara tersebut menerapkan asas hukum netralitas dalam hubungan internasional.
Dalam laporan media Austria, ORF pada Kamis (2/4/2026), juru bicara Kementerian Pertahanan (Kemhan) Austria mengonfirmasi adanya beberapa permintaan dari Washington tetapi tidak menyebutkan jumlah pastinya.
Sebagai negara yang mempertahankan kebijakan netralitas militer yang telah lama berlaku, Kemhan menegaskan, Austria belum memberlakukan larangan umum terhadap penerbangan AS tetapi sedang meninjau permintaan berdasarkan kasus per kasus.
Partai oposisi Sosial Demokrat (SPO) pun menyerukan pemerintah untuk mempertahankan pendiriannya saat ini.
“Menteri Pertahanan Klaudia Tanner (OVP) seharusnya tidak menyetujui satu pun penerbangan militer AS ke Teluk. Ia juga seharusnya tidak menyetujui penerbangan transportasi atau dukungan logistik lainnya,” kata kepala SPO di Austria Hilir Sven Hergovich.
“Sama seperti yang dilakukan Spanyol, Prancis, Italia, dan Swiss. Perang ini merusak kepentingan ekonomi Austria, Eropa secara keseluruhan, dan perdamaian dunia,” tambahnya.
Awal pekan ini, Spanyol dilaporkan menutup wilayah udaranya untuk penerbangan militer terkait konflik tersebut, sementara Italia menolak permintaan pesawat AS untuk mendarat di pangkalan di Sisilia.
Sebagai informasi, konflik ini bermula dari serangan AS dan Israel ke wilayah Iran sejak 28 Februari 2026. Serangan itu menewaskan lebih dari 1.340 korban, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Teheran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS—menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.
Sumber: Antara
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 2 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 2 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
TEKNOLOGI | 1 hari yang lalu
EKBIS | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu
POLITIK | 1 hari yang lalu






