JD Vance Siap Pimpin Lagi Negosiasi Kedua dengan Iran di Pakistan

Oleh: Tim Redaksi
Rabu, 15 April 2026 | 10:00 WIB
Wapres AS JD Vance (kiri) bersalaman dengan PM Pakistan Shehbaz Shari. (Foto/Instagram Shehbaz Sharif)
Wapres AS JD Vance (kiri) bersalaman dengan PM Pakistan Shehbaz Shari. (Foto/Instagram Shehbaz Sharif)

BeritaNasional.com - Babak baru ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase kritis. Setelah putaran pertama perundingan di Islamabad berakhir buntu pada pekan lalu, Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan kemungkinan besar kembali memimpin delegasi Amerika jika negosiasi putaran kedua dilaksanakan dalam waktu dekat.

Kabar ini muncul di tengah situasi Timur Tengah yang memanas. Presiden Donald Trump memberikan sinyal bahwa komunikasi diplomatik belum sepenuhnya tertutup. 

Pada Selasa (14/4/2026) waktu setempat, Trump menyebutkan pertemuan lanjutan antara Washington dan Teheran bisa saja terjadi dalam dua hari ke depan dengan Pakistan kembali menjadi tuan rumah.

Gagalnya Kesepakatan di Islamabad

Upaya damai ini menyusul eskalasi militer besar-besaran yang terjadi pada akhir Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke berbagai target di Iran, termasuk Teheran.

Serangan tersebut memicu aksi balasan dari Iran yang menyasar wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.

Guna meredam konflik, kedua negara sempat memulai pembicaraan di Islamabad pada Sabtu (11/4) setelah Trump mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan. Namun, harapan itu pupus hanya dalam waktu singkat.

Pada Ahad (12/4) pagi, Wapres JD Vance memberikan pernyataan resmi yang menegaskan kegagalan diplomasi tersebut. 

"Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan tersebut dan delegasi AS kembali tanpa hasil," katanya pada Selasa (15/4/2026).

Kegagalan dialog di Pakistan langsung direspons keras oleh Donald Trump. Sebagai langkah balasan, Trump mengambil keputusan ekstrem dengan memerintahkan blokade total di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.

Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk mengejar dan mencegat setiap kapal yang kedapatan membayar pihak tertentu untuk melewati selat tersebut. Blokade ini dikonfirmasi mulai berlaku secara resmi pada Senin (13/4/2026) pukul 21.00 WIB.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: