Pejabat Hizbullah: Gencatan Senjata Penting, Senjata Tetap Dipertahankan

Oleh: Tim Redaksi
Jumat, 17 April 2026 | 13:31 WIB
Ilustrasi serangan Israel ke Lebanon (Foto/UNRWA)
Ilustrasi serangan Israel ke Lebanon (Foto/UNRWA)

BeritaNasional.com - Seorang pejabat senior Hizbullah menyatakan bahwa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon merupakan langkah yang penting dan sangat dibutuhkan, serta mendapat dukungan dari berbagai pihak. Namun, Hizbullah menegaskan tidak akan memenuhi tuntutan Israel untuk melucuti senjata, kecuali dalam kerangka yang lebih luas terkait visi keamanan nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Bilal Lakkiss, anggota senior komite pusat Hizbullah, dalam wawancara dengan NBC News pada, beberapa jam setelah mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata, namun sebelum kesepakatan tersebut resmi berlaku.

Kesepakatan awal terkait perbatasan Lebanon-Israel dinilai meningkatkan harapan akan terciptanya gencatan senjata yang lebih berkelanjutan, melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran, serta membuka peluang normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan Lebanon yang berpotensi mengakhiri konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.

Meski demikian, Lakkiss menilai kekuatan militer Hizbullah menjadi faktor utama di balik tercapainya gencatan senjata. Ia menyebut hal itu sekaligus memperkuat legitimasi keberadaan senjata Hizbullah sebagai bagian penting dalam menjaga kedaulatan Lebanon.

“Status senjata di Lebanon, pada kenyataannya, telah memperoleh legitimasi yang lebih besar, karena gencatan senjata tidak akan tercapai tanpa ketahanan perlawanan,” kata Lakkiss.

“Dalam hal ini, kekuatan perlawanan telah menjadi faktor penentu dalam mendorong Israel menuju gencatan senjata," imbuh dia.

Lakkiss juga menanggapi pertemuan antara perwakilan Lebanon dan Israel di Washington yang difasilitasi Amerika Serikat dan dihadiri Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Pertemuan tersebut menjadi kontak formal tingkat tinggi pertama antara kedua pihak sejak awal 1990-an.

Namun, ia menilai pertemuan itu tidak lebih dari sekadar simbolis dan tidak memberikan dampak signifikan terhadap penyelesaian konflik. “Apa yang terjadi… di Washington tampaknya sebagian besar bersifat simbolis,” ujarnya. “Upaya Amerika Serikat untuk mensponsori negosiasi antara Lebanon dan Israel tidak terlalu berguna dan tidak memajukan masalah.”

Lebih lanjut, Lakkiss menilai pemerintah Lebanon tidak memiliki kapasitas untuk menghadapi Israel secara militer. Ia menilai kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk melakukan perlawanan secara mandiri.

“Apa yang telah dilakukan negara Lebanon? Negara Lebanon tidak mampu berbuat apa pun,” katanya. “Selama Israel terus melakukan serangan dan negara Lebanon tidak mampu mencegahnya, rakyat secara alami akan membela diri. Inilah realitas perlawanan di Lebanon.”

Ia juga memperingatkan bahwa Hizbullah akan kembali terlibat dalam konflik jika gencatan senjata gagal dipertahankan. Menurutnya, hal itu menjadi alasan utama bagi kelompok tersebut untuk tetap mempertahankan persenjataan mereka.

“Jika gencatan senjata tidak dipertahankan, ini berarti perlawanan di Lebanon akan membalas, yang pada gilirannya akan menyebabkan pelanggaran gencatan senjata kembali terjadi,” ujarnya.

Selain itu, Lakkiss menegaskan bahwa Israel harus menarik diri dari wilayah Lebanon dan menghormati kedaulatan negara tersebut. Ia juga menolak gagasan pembentukan zona penyangga yang dinilai sebagai bentuk pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon.

“Hak kedaulatan penuh Lebanon harus dijunjung tinggi. Penarikan Israel dari wilayah Lebanon dan kembalinya rakyat Lebanon ke tanah mereka” harus dipastikan, katanya.

Sumber: NBC Newssinpo

Editor: Harits Tryan
Komentar: