Lebanon Tegaskan Pelucutan Senjata Hezbollah Tak Mudah

Oleh: Tim Redaksi
Kamis, 23 April 2026 | 19:22 WIB
Ilustrasi bendera Lebanon (BeritaNasional/Pixabay)
Ilustrasi bendera Lebanon (BeritaNasional/Pixabay)

BeritaNasional.com -  Upaya melucuti senjata kelompok Hezbollah di Lebanon disebut tidak bisa dilakukan secara instan.

Hal ini disampaikan anggota parlemen independen, Najat Aoun Saliba, yang menyoroti keterbatasan militer negara tersebut.

Menurutnya, selama puluhan tahun, kekuatan militer resmi Lebanon tertinggal dibandingkan kelompok bersenjata non-negara. Kondisi ini membuat proses pelucutan senjata menjadi jauh lebih kompleks.

“Tidak realistis jika dalam waktu singkat angkatan bersenjata Lebanon langsung menjadi kekuatan utama, sementara mereka kekurangan sumber daya dan personel,” ujarnya, seperti dikutip dari aljazeera, Kamis (23/4/2026).

Meski tantangannya besar, pemerintah Lebanon dinilai sudah berada di jalur yang tepat. Presiden dan perdana menteri saat ini disebut tengah mengupayakan dukungan internasional, baik dalam bentuk bantuan finansial maupun penguatan kapasitas militer.

Langkah ini diharapkan mampu membantu proses pembongkaran persenjataan, termasuk sistem rudal yang dimiliki Hezbollah.

Saliba menegaskan bahwa tanggung jawab tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada militer nasional. Ia menyebut angkatan bersenjata telah bekerja maksimal, tetapi tetap membutuhkan dukungan dari luar.

Wacana Abraham Accords Dinilai Terlalu Dini

Terkait spekulasi bahwa Lebanon bisa bergabung dengan Abraham Accords sebagai imbalan atas pelucutan senjata Hezbollah, Saliba menilai pembahasan tersebut masih terlalu prematur.

Ia menegaskan bahwa Lebanon tidak akan mengambil keputusan sepihak tanpa berkonsultasi dengan negara-negara sahabat di kawasan, termasuk anggota Liga Arab.

“Lebanon akan menentukan jalannya sendiri, tetapi tetap mempertimbangkan posisi regional,” katanya.

Di sisi lain, Perdana Menteri Nawaf Salam menegaskan bahwa Lebanon tidak akan menandatangani perjanjian apa pun tanpa penarikan penuh pasukan Israel dari wilayahnya.

Ia menolak konsep zona penyangga yang memungkinkan kehadiran militer Israel tetap berada di area tertentu.

“Kami tidak bisa menerima situasi di mana warga yang mengungsi tidak bisa kembali, dan wilayah yang hancur tidak dapat dibangun kembali,” ujarnya dalam wawancara internasional.

Peran AS Dinilai Kunci dalam Negosiasi

Lebanon berharap Amerika Serikat dapat memainkan peran penting dalam menekan Israel selama proses negosiasi berlangsung.

Menurut Nawaf Salam, peran Washington sebelumnya cukup signifikan dalam mendorong gencatan senjata, dan diharapkan bisa berlanjut dalam proses diplomasi berikutnya.

Terkait tuntutan internasional untuk melucuti Hezbollah, pemerintah Lebanon menegaskan bahwa hal tersebut merupakan proses jangka panjang.

Nawaf Salam menekankan bahwa keikutsertaan Lebanon dalam meja perundingan bukan berarti menyerah, melainkan bagian dari upaya mencapai solusi yang diinginkan.

“Saya tidak tahu apa yang akan kami capai dalam negosiasi, tetapi kami tahu apa yang kami inginkan,” ujarnya.sinpo

Editor: Imantoko Kurniadi
Komentar: