Ketegangan Meningkat, Militer AS Cegat Kapal Berbendera Iran di Selat Hormuz

Oleh: Tim Redaksi
Sabtu, 25 April 2026 | 19:00 WIB
Kapal militer AS mencegat kapal berbendera Iran di Selat Hormuz. (Foto/X Centcom)
Kapal militer AS mencegat kapal berbendera Iran di Selat Hormuz. (Foto/X Centcom)

BeritaNasional.com - Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mencegat kapal berbendera Iran pada Jumat (24/4/2026) waktu setempat. 

Penghalauan kapal oleh militer AS tersebut merupakan bagian dari penegakan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan di Iran.

Melalui pernyataan resmi di platform media sosial X, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi kapal perusak rudal berpemandu USS Rafael Peralta (DDG 115) menjadi unit yang melakukan penghadangan tersebut. 

‘’Kapal perusak rudal berpemandu USS Rafael Peralta (DDG 115) menegakkan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran terhadap sebuah kapal berbendera Iran yang mencoba berlayar ke pelabuhan di Iran, 24 April,’’ tulis Komando Pusat AS melalui X resminya, @centcom yang dikutip pada Sabtu (25/4/2026).

Kapal berbendera Iran itu dicegat saat mencoba berlayar menuju pelabuhan di negaranya sendiri.

Blokade di Selat Hormuz Terus Berlanjut

Hingga saat ini, Angkatan Laut AS masih memberlakukan blokade ketat di kawasan strategis Selat Hormuz. Tekanan militer ini terlihat semakin intensif dalam beberapa hari terakhir.

Pada Kamis lalu, pihak Komando Pusat menyatakan telah memerintahkan sedikitnya 31 kapal yang memiliki keterkaitan dengan Iran untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan asal mereka. AS secara tegas melarang aktivitas pelayaran yang mencoba menembus zona blokade tersebut.

Aksi militer ini merupakan buntut dari instruksi Presiden AS Donald Trump yang diumumkan pada 12 April 2026. 

Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokir pergerakan kapal yang masuk maupun keluar dari Selat Hormuz.

Keputusan drastis ini diambil setelah putaran pertama pembicaraan damai antara AS dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada 11-12 April menemui jalan buntu. 

Gagalnya kesepakatan damai di meja diplomasi tersebut langsung direspons Washington dengan kebijakan blokade maritim yang berlaku segera, yang kini memicu eskalasi di jalur perdagangan energi dunia tersebut.

Sumber: Xinhua Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: