Dorong Evaluasi Sistem Keselamatan Transportasi, DPR Usul Sejumlah Solusi usai Kecelakaan Kereta Bekasi

Oleh: Ahda Bayhaqi
Kamis, 30 April 2026 | 15:04 WIB
Anggota Komisi V DPR RI Sudjatmiko (kanan). (BeritaNasional/Ahda)
Anggota Komisi V DPR RI Sudjatmiko (kanan). (BeritaNasional/Ahda)

BeritaNasional.com - Anggota Komisi V DPR RI Sudjatmiko mengusulkan sejumlah solusi jangka pendek, menengah, dan panjang dalam rangka evaluasi keselamatan transportasi kereta api. Hal itu setelah insiden kecelakaan tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Pertama, solusi jangka pendek adalah memberikan sistem monitor di kabin masinis untuk bisa melihat visual dengan jangkauan 1.000 sampai 2.000 meter. Saat ini, hanya ada di sistem kontrol stasiun, sedangkan masinis hanya bisa melihat yang kasatmata.

"Nah, ini harapannya bisa di sebuah kabin masinis itu bisa mengetahui 1.000 sampai 2.000 meter, karena jarak dengan kecepatan 60 sampai 100, kalau 60 berarti kan jarak pengeremannya sekitar 600 meter, kalau kecepatannya 100 kan berarti jarak pengeremannya 1 kilo itu dia, 1.000 meter kalau kecepatan 100," ujar Sudjatmiko dalam diskusi di DPR pada Kamis (30/4/2026).

Sudjatmiko mengatakan teknologi tersebut tidak terlalu mahal, hanya cukup dengan menghubungkan CCTV yang ada di setiap perlintasan sebidang dan stasiun.

Untuk solusi jangka menengah, politikus PKB ini mengusulkan audit keselamatan nasional yang memprioritaskan perbaikan menyeluruh.

Menurut dia, jangan hanya perbaikan perlintasan sebidang, tetapi jalannya juga perlu diperbaiki.

"Jadi, perlintasan sebidang ini bukan hanya jalur keretanya, jalur jalannya juga harus kita perbaiki. Terkadang perlintasannya, jalannya, aspalnya, betonnya ini tidak bagus ya jadi bergelombang. Jadi, pengendara kendaraan bermotor roda dua, roda empat ini dan yang lainnya itu terganggu karena rusak ya jalannya ya, perlintasan kan kadang sering rusak karena beban kejutnya. Juga integrasi sistem pengamanan," jelas Sudjatmiko.

Sementara itu, solusi jangka panjang adalah pembangunan flyover dan underpass khususnya di perlintasan yang lalulintas keretanya tinggi.

"Itu harus dibuat flyover memang, nggak ada cara lain, kalau headway-nya tinggi keretanya di bawah, apalagi Jabodetabek setiap 5 menit ada kereta. Nah, itu harusnya sudah menggunakan flyover dan underpass," ujar Sudjatmiko.

Selain itu, perlu penutup perlintasan sebidang ilegal. Selain itu, modernisasi sistem perkeretaapian menyeluruh, termasuk pemberian pendidikan kepada masinis.

"Jadi, gini, masinis ini harus ditambahkan pendidikan pada saat dia terjadi blind spot atau persinyalannya mati atau apa, ini apa yang dilakukan oleh masinis? Sama kayak pilot kan, pada saat dia cuaca sangat buruk, dia kehilangan, turbinnya dia tidak berfungsi, apa yang harus dia lakukan? Sama, masinis kereta ini harus punya kemampuan lebih pada saat kondisi darurat yang persinyalannya atau ada gangguan seperti itu," kata Sudjatmiko.

Kecelakaan kereta di Bekasi Timur ini dinilai tidak hanya disebabkan oleh individu, tetapi juga sistem yang salah. Karena itu, Sudjatmiko mendorong evaluasi menyeluruh keselamatan transportasi nasional.

"Nah, keselamatan masyarakat ini menjadi prioritas utama yang diperlukan langkah konkret nih kita sama-sama, kita sama-sama ikhtiar ya, dan juga sinergi antar lembaga supaya kejadian ini tidak terulang lagi di masa datang," ujarnya.sinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: