Pakistan Izinkan Pesawat Militer Iran Mendarat di Pangkalan Udaranya

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 12 Mei 2026 | 11:30 WIB
Ilustrasi pesawat militer Iran. (Foto/Pixabay)
Ilustrasi pesawat militer Iran. (Foto/Pixabay)

BeritaNasional.com - Pesawat militer Iran diizinkan mendarat di lapangan udara Nur Khan, Pakistan, meskipun Pakistan berperan sebagai mediator dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Hal ini disampaikan pejabat AS yang dikutip dari laporan CBS News, Senin (11/5/2026). Usai Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata, Iran dilaporkan mengirim beberapa pesawat, termasuk pesawat RC-130 Angkatan Udara yang merupakan varian intelijen dan pengawasan dari pesawat angkut taktis Lockheed C-130 Hercules, ke Pangkalan Udara Nur Khan Pakistan, dekat kota Rawalpindi.

Pengerahan pesawat itu kemungkinan untuk bertahan melawan serangan AS. Namun demikian, seorang pejabat senior Pakistan membantah klaim tersebut dan mengatakan kepada CBS News bahwa pangkalan Nur Khan berada tepat di jantung kota dan sebagian besar pesawat yang diparkir di sana tidak mungkin disembunyikan dari pandangan publik.

Selain itu, dua pejabat lainnya juga menyebut bahwa Iran juga mengirim pesawat sipil untuk ditempatkan di Afghanistan.

Seorang petugas penerbangan sipil Afghanistan menyampaikan, sebuah pesawat sipil Mahan Air mendarat di Kabul sesaat sebelum konflik dimulai. Setelah Iran menutup wilayah udaranya, pesawat tersebut tetap berada di bandara Kabul.

Namun, ketika ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan meningkat pada Maret, otoritas penerbangan sipil Taliban memindahkan pesawat tersebut ke Bandara Herat, yang terletak di dekat perbatasan Iran, karena alasan keamanan. Menurut petugas tersebut, itu adalah satu-satunya pesawat Iran yang tersisa di Afghanistan.

Pada saat yang sama, juru bicara utama Taliban, Zabihullah Mujahid, membantah keberadaan pesawat Iran di negara itu.

Sebagai informasi, perang ini bermula sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026 hingga menyebabkan kerusakan dan korban jiwa di kalangan warga sipil. Kemudian, 7 April, AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata dan dilanjutkan dengan negosiasi di Islamabad yang berakhir tanpa hasil.

Trump pun lalu memperpanjang gencatan senjata guna memberi waktu bagi Iran untuk mengajukan "proposal terpadu". Eskalasi ketegangan itu hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar.

Pada 3 Mei, Trump mengumumkan operasi "Project Freedom" untuk membantu kapal-kapal yang tertahan di Selat Hormuz melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, dua hari setelahnya, Trump memutuskan untuk menghentikan sementara operasi tersebut guna melihat apakah kesepakatan damai dengan Iran dapat tercapai.

Sumber: Antarasinpo

Editor: Kiswondari
Komentar: