Rupiah Melemah, Apa Penyebab dan Dampak yang Ditimbulkan?

Oleh: Sri Utami Setia Ningrum
Minggu, 17 Mei 2026 | 07:39 WIB
Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)
Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (Beritanasional.com/Oke Atmaja)

BeritaNasional.com -  Mata uang rupiah mengalami pelemahan yang cukup signifikan. Pelemahan nilai tukar rupiah tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan mata uang ini, khususnya dari kondisi ekonomi global dan kebijakan negara lain. Simak ulasannya berikut ini yang dilansir dari laman Pegadaian.

Penyebab Rupiah Melemah di 2026

1. Kondisi Ekonomi Amerika Serikat yang Kuat

Salah satu alasan dolar Amerika Serikat menguat adalah karena kondisi ekonomi negara tersebut masih cukup baik.

Data pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat pada kuartal II 2025 bahkan menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Hal ini membuat banyak investor semakin tertarik menyimpan dana dalam dolar.

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury juga masih menarik bagi investor. Walaupun bank sentral Amerika Serikat sudah menurunkan suku bunga, pasar tetap menunggu langkah selanjutnya.

2. Kebijakan Suku Bunga The Fed

The Fed adalah bank sentral Amerika Serikat yang bertugas mengatur kebijakan keuangan, termasuk menentukan suku bunga.

Keputusan dari lembaga ini sering memengaruhi kondisi ekonomi global karena dolar digunakan dalam banyak transaksi di berbagai negara.

Nah, pada 18 September 2025, The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin sehingga berada di kisaran 4,00 hingga 4,25 persen.

Meski begitu, Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa langkah ini bukan berarti suku bunga akan terus dipangkas dalam waktu dekat.

The Fed masih ingin melihat perkembangan ekonomi terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan berikutnya.

Di dalam The Fed sendiri juga ada perbedaan pendapat. Ada yang setuju suku bunga diturunkan agar kondisi lapangan kerja tetap stabil.

Namun, ada juga yang mengingatkan bahwa inflasi masih cukup tinggi sehingga penurunan suku bunga tidak bisa dilakukan terlalu cepat.

 

3. Ketegangan Global Meningkatkan Permintaan Dolar

Ketegangan politik di berbagai negara juga ikut memengaruhi nilai dolar Amerika Serikat. Ketika terjadi konflik atau situasi di mana dunia terasa tidak pasti, pasar keuangan biasanya ikut terdampak.

Salah satu contohnya terjadi di Eropa. Saat itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak terus membeli minyak dari Rusia.

Pernyataan ini membuat pasar menjadi khawatir karena bisa saja muncul sanksi baru yang memengaruhi perdagangan energi.

Walaupun belum ada keputusan resmi, situasi seperti ini tetap menimbulkan ketidakpastian. Akibatnya, banyak investor memilih memindahkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman, salah satunya adalah dolar Amerika Serikat.

Apabila hal tersebut terjadi, permintaan dolar pun meningkat sehingga nilainya menjadi lebih kuat.
 

Dampak Rupiah Melemah

Pelemahan rupiah tidak hanya terlihat dari perubahan nilai tukar. Kondisi ini juga dapat memengaruhi berbagai bidang, mulai dari kegiatan usaha hingga arus investasi. Berikut beberapa dampak rupiah melemah yang perlu kamu ketahui:

1. Dampak pada Sektor Usaha dan Industri

Ketika rupiah melemah, usaha yang masih mengimpor bahan baku dari luar negeri biasanya akan merasakan dampaknya. Hal ini karena harga bahan impor menjadi lebih mahal sehingga biaya produksi ikut meningkat.

Jika biaya tersebut diteruskan kepada konsumen, harga barang bisa naik dan berpotensi memicu inflasi. Di sisi lain, pelemahan rupiah juga bisa menguntungkan pelaku usaha yang menjual produk ke luar negeri.

Nilai rupiah yang lebih rendah membuat harga barang ekspor terasa lebih terjangkau bagi pembeli dari negara lain.

Meski begitu, keuntungan tersebut bisa berkurang jika pelaku usaha masih perlu mengimpor sebagian bahan atau komponen dari luar negeri.

2. Dampak pada Kebijakan Moneter

Bank Indonesia perlu mengambil keputusan yang tidak selalu mudah. Di satu sisi, BI perlu menjaga agar nilai tukar rupiah tetap stabil.

Namun, di sisi lain, BI juga ingin mendorong pertumbuhan ekonomi agar kegiatan usaha tetap berjalan dengan baik. Salah satu langkah yang diambil adalah mempertahankan suku bunga acuan menjadi 4,75 persen.

Kebijakan ini bertujuan untuk membantu pertumbuhan ekonomi, misalnya dengan membuat pinjaman menjadi lebih ringan. Meski begitu, keputusan ini juga bisa memberi tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah.

3. Dampak pada Investasi dan Arus Modal

Pelemahan nilai tukar dalam waktu singkat bisa membuat sebagian investor menjadi lebih berhati-hati. Kondisi ini dapat memengaruhi kepercayaan investor portofolio, sehingga ada yang menunda atau mengurangi investasinya.

Meski begitu, jika kondisi ekonomi tetap kuat dan kebijakan pemerintah berjalan dengan baik, investor jangka panjang biasanya masih melihat peluang di dalam negeri. Oleh karena itu, minat investasi tetap bisa bertahan meskipun nilai tukar sedang mengalami perubahan.sinpo

Editor: Sri Utami Setia Ningrum
Komentar: