Ancaman Ebola Meluas, Uni Afrika Desak Peningkatan Kewaspadaan di Kongo-Uganda

Oleh: Tim Redaksi
Selasa, 19 Mei 2026 | 05:00 WIB
Ilustrasi virus Ebola. (Foto/CDC)
Ilustrasi virus Ebola. (Foto/CDC)

BeritaNasional.com - Uni Afrika (AU) secara resmi menyatakan kekhawatiran mendalam atas kembali merebaknya wabah virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda. Lonjakan kasus ini dinilai membawa risiko besar terhadap stabilitas kesehatan di kawasan sekitarnya.

Ketua Komisi Uni Afrika (AUC), Mahmoud Ali Youssouf, menegaskan bahwa potensi penyebaran virus ini ke negara-negara tetangga di benua Afrika kini berada pada level yang mengkhawatirkan.

"Uni Afrika berdiri sepenuhnya bersama rakyat dan pemerintah DRC serta Uganda di masa sulit ini," ujar Youssouf dalam keterangan resminya yang dikutip pada Senin (18/5/2026).

Merespons situasi tersebut, Youssouf mendesak seluruh negara anggota Uni Afrika beserta para mitra internasional untuk segera memperkuat sistem pengawasan, kesiapsiagaan, dan tim gerak cepat, terutama di wilayah-wilayah yang masuk dalam zona berisiko tinggi.

Apresiasi Penanganan Cepat dan Solidaritas Benua

Meski situasi di lapangan terbilang berat, AUC memberikan apresiasi tinggi kepada pemerintah DRC, Uganda, otoritas kesehatan, serta para tenaga medis di garda terdepan atas dedikasi mereka dalam melokalisasi wabah.

Langkah preventif yang diambil oleh negara tetangga seperti Sudan Selatan juga mendapat pujian.

Untuk memaksimalkan penanganan, AU memastikan dukungan penuh bagi badan kesehatan khusus mereka, Africa Centers for Disease Control and Prevention (Africa CDC). Lembaga ini akan memimpin koordinasi respons di tingkat benua, bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), donor, dan lembaga kemanusiaan.

Strain Mematikan Tanpa Vaksin

Berdasarkan data terbaru dari Africa CDC, situasi di DRC cukup mengkhawatirkan dengan angka kematian yang telah mencapai 87 jiwa sejak wabah ini kembali merebak di Provinsi Ituri.

Tantangan terbesar kali ini adalah jenis virus yang menginfeksi, yaitu strain Bundibugyo. Hingga saat ini, belum ada vaksin khusus yang tersedia untuk menangkal strain tersebut, sehingga potensi penyebaran regional menjadi jauh lebih tinggi.

Sebagai informasi, Ebola merupakan virus dengan tingkat penularan yang sangat cepat. Gejala awal infeksi meliputi:

  • Demam tinggi
  • Muntah dan diare
  • Nyeri sendi atau rasa lemas yang parah
  • Pada fase akut, pasien dapat mengalami pendarahan di dalam maupun di luar tubuh.

Menurut data WHO, Ebola termasuk salah satu penyakit paling mematikan di dunia dengan tingkat kematian (mortalitas) berkisar antara 50 persen hingga 89 persen, tergantung pada subtipe virus yang menginfeksi.

Sumber: Xinhua Newssinpo

Editor: Tarmizi Hamdi
Komentar: